PERBANDINGAN BAHASA NUSANTARA
(PERBANUS)
Suradi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Nusantara adalah nama rumpun bahasa.
Pokok bahasan di mata kuliah ini adalah
1. Penggolongan bahasa.
2. Bahasa Austronesia
3. Bahasa Nusantara
Hal yang diperbandingkan :
Karakteristik bahasa / hal yang istimewa / hal yang dibandingkan .
Setrategi perbanus , menempatkan bahasa Indonesia sebagai sitem primer (sebagai ukurannya bahasa Indonesia)
Bahasa Nusantara = Bahasa daerah
Bahasa I/ Bahasa Ibu = Bahasa yang diperoleh pertama kali.
Bahasa II = bahasa yang diperoleh setelah bahasa ibu/ bahasa I
Bahasa Indonesia juga dijadikan sebagai bahasa pemersatu.
Bahasa Nusantara bahasa yang serumpun yaitu bahasa daerah.
I. PENGGOLONGAN BAHASA
Yang dijadikan untuk penggolongan yaitu tataran bahasa ;
a. Fonologi d. semantic.
b. Morfologi
c. Sintaksis
Dasar penggolongan bahasa ;
1. Dasar Tipologi
Bahasa didasarkan pada tipe atau bentuk .
Menurut Van Humbold, bahsa dijadikan menjadi 3 bentuk/tipe :
a. Bahasa berisolasi
Struktur bahasa didominasi kata dasar, contohnya bahasa cina
b. Bahasa beraglumentasi.
Struktur bahasa yang didominasi kata berimbuhan, contohnya bahasa latin.
c. Bahasa berfleksi.
Struktur bahasa tersebut ada kata dasar dan kata imbuhan , contohnya hampir bahasa di dunia tipenya tipe bahasa fleksi (termasuk bahasa Jawa)
2. Atas dasar Genologi (keturunan atau asal muasal)
Penggolongan bahasa didasarkan pada asal usul dan sejarah perkembangannya.
Ada 5 rumpun bahasa / indeks bahasa :
a. Bahasa Nostrat (mbahne bahasa)
a. Bahasa Indo German/ Indo Eropa (mendunia)
Contoh : India, Iran, Slafia, German, Belanda, Prancis
b. Bahasa Semit
Contoh ; Arab , Etopia, Suriyah.
c. Bahasa Hamit
Contoh : Bahasa Mesir
d. Bahasa Ural Altai
Contoh : Vilandia, Jepang, Hongaria, Turki, Eskimo, Korea.
e. Bahasa Jofet/ Japhenthit
Contoh ; Giurgeria.
2. Bahasa Austris/Austria
a. Bahasa Austronesia yang akan dipelajari
1. Bahasa Nusantara
2. Bahasa Oceanea (Iriyan)
3. Bahasa Polinesia
b. Bahasa Austro Asia (berada disepanjang selat Malaka)
c. BahasaTibeto Cina (Tibet, Cina, Birma, Muangtai, Thailand, Miyamar)
3. Bahasa terpencil di Asia dan Australia
Contoh : Halmahera, ternate, Tedore, Andaman, Hiperbolia.
4. Bahasa – bahasa Afrika
5. Bahasa – bahasa Amerika
II. BAHASA AUSTRONESIA
1. ?
Dipegunungan Zunan di Cina Selatan pernah hidup suku bangsa yang bernama Austronesia, diusir oleh suku Cina , sehingga pindah menghilir melalui makong sehingga sampai diwilayah Asia tenggara.
2. Penyebaran Bahasa Austronesia.
Terjadi disepanjang wilayah laut teduh atau laut Pasifik
Tepatnya dimulai pulau Ester Island sebelah Timur dan diakhiri di pulau Madagaskar sebelah Barat.
3. Gejala Istimewa pada Bahasa Austronesia
1. Ada kata dasar dan kata yang diturunkan dari berbagai imbuhan
Kata dasar = jalan
Kata turunan = Perjalanan, menjalankan , dijalankan , berjalan.
2. Kata dasar kebanyakan bersuku dua
Contoh ; jalan, mandi tuli, mati , lari.
3. Tidak mengenal adanya gejala Gender (Pembedaan jenis kelamin)
4. Terdapat perbedaan antara “Kita” dan “kamu”
5. Pernyataan Nemerus/numerial/jumlah pada sebuah benda jauh lebih sempurna, kesempurnaan itu bias melalui Afiksasi, Reduplikasi, ataupun penambahan kata tetentu.
Contoh :
- menumpuk setinggi gunung.
- Kertas berceceran di lantai
- Sederetan took
- Toko – took
4. Pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Austronesia.
a. Pengaruh orang India.
Yang menjadikan pengaruh adalah penuturnya. Orang hujarat India pergi ke Asia tenggara untuk berdagang membawa bahasa sansekerta, disini yang paling berpengaruh adalah bahasa Sansekerta.
b. Pengaruh Agama Islam.
Pada abad ke 13 agama Islam masuk ke Indonesia, melalui agama Islam yang mempengaruhi adalah bahasa Arab, kenapa agama Islam bukan orang Islam karena yang beragama Islam belum tentu berbahasa Arab.
c. Pengaruh orang Eropa.
Bahasa tergantung pada penjajahnya kalau yang menjajah itu Belanda seperti di Indonesia yang lama menjajah adalah bangsa Belanda maka banyak dipengaruhi oleh orang Belanda.
5. Penggolongan bahasa Austronesia berdasarkan ilmu alam
I. Bahasa Austronesia dibagian timur II. Bahasa Austronesia di bagian Barat
- Bahasanya bahasa Pasifik /bhs. Oceania/ bhs. Nusalautan - Bahasa Hespiranesia/Nusantara
- Bahasa Nusantara itu bahasa Austronesia yang ada di wilayah barat.
a. Rumpun Bhs. Polisenia/ Nusabanyak.
Pulau Ester Island sebelah timur sampai ke pulauan Hawai sebelah selatan dan sampai di Selandia baru sebelah Selatan.
Hawai
Segitiga besar Polisenia
Ester Island Selandia baru
Wilayah penutur Polisenia
b. Rumpun bahasa Melanisia/Nusahitam
Kepulauan Fiji – Hibridia baru – kaledonia baru – Salmon dan berakhir di Islandia baru.
c. Rumpun Bahasa Mikronesia/Nusakecil.
Kepulauan Karolina – Kepulauan Mariyana – Kepulauan Marshal – Kepulauan Gilbert. a. Bahasa Philiphina.
Salah satunya adalah bhs. Tagalok(Bhs daerah Eropa), Iloko,
b. Bhs- bhs Sub Philiphina
Cth ; Sangartalaut, Minahasa (Sulawesi Utara)
c. Bahasa – bahasa Malaysia
Bahasa Melayu.
d. Bahasa Cham di Kamboja
e. Bhs Malagasi di Magadaskar (Eropa)
f. Bahasa – bahasa daerah di sebagian besar wilayah Indonesia
Kata para ahli bahwa ; “ bahasa Jawa memiliki kedudukan istimewa di antara bahasa – bahasa Austronesia” alasannya yaitu ;
1. Karena merupakan bahasa bersejarah (bhs Jawa sudah dikenal sejak abad 9)
2. Bahasa berbudaya (bhs. Jawa ada unggah – ungguh, tata karma/ stratifikasi)
3. Penuturnya melebihi 50 juta jiwa. (wilayah penuturnya Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, DIY)
BAHASA BAHASA DI WILAYAH INDONESIA
Pulau Sumatra
1. Bhs. Aceh
2. Bhs. Gayung
3. Bhs. Mingakabau (Smt Brt)
4. Bhs. Batak (Smt Ut)
5. Bhs. Pasemah
6. Bhs. Bengkulu
7. Bhs. Nias
8. Bhs. Batin
Pulau Jawa
1. bhs. Sunda
2. Bhs. Betawi (melayu Jkt)
3. Bhs Jawa
4. Bhs. Madura
5. Bhs. Tengger (pegunggan Bromo)
6. Bhs. Badui (Pegun.kendeng)
7. Bhs. Bawean (kab Surabaya)
Pulau Kalimantan
1. Bhs. Banjar
2. Bhs. Dusun
3. Bhs. Murut/Dayak(org Dayak)
4. Bhs. Tidung
5. Bhs. Kenyah
6. Bhs. Bidayah
7. Bhs. Punang
8. Bhs. Iban
Pulau Sulawesi
1. Bhs. Sagirtalaut
2. Bhs. Minahasa
3. Bhs. Bolaang mangundo
4. Bhs. Bugis Hampir sama
5. Bhs. Mandar
6. Bhs. Toraja
7. Bhs. Tomimi
8. Bhs. Munabuton
Pulau Maluku
1. Bhs. Ternate
2. Bhs. Tedore
3. Bhs. Halmahera
4. Bhs. Salaru
5. Bhs. Kae
6. Bhs. Makatian
Nusa Tenggara Timur (Flores)
1. Bhs. Sumba
2. Bhs. Ende
3. Bhs. Solor
4. Bhs. Alor
5. Bhs. Rofi
6. Bhs. Sawu
Pulau Lombok Pulau Irian
1. Bhs. Sumbawa
2. Bhs. Sanggar
3. Bhs. Bima
4. Bhs. Donggo
Pulau Bali
1. Bhs. Sorong
2. Bhs. Biak
3. Bhs. Ninboran
4. Bhs. Mor
5. Bhs. Midoi
Ketika Sebuah kata tak lagi bermakna diam seribu bahasa jawabnya dan ketika satu kata seribu makna berfikirlah..untuk mengerti akan jawabannya
Rabu, 05 Mei 2010
Semiotika Dasar
Semiotika adalah ilmu tentang tanda yang akhirnya membahas juga masalah penggunaan kombinasi tanda di masyarakat. Semiotika dikembangkan oleh seorang Swiss bernama Ferdinand de Saussure yang banyak mempelajari linguistik. Dari kaya-karyanya di bidang ini teoritikus-teoritikus Perancis mengembangkan apa yang disebut sebagai strukturalisme. Strukturalisme memiliki arti penting dalam studi linguistik dan studi budaya.Tanda merupakan acuan kita terhadap sesuatu “di luar
Saussure mengemukakan bahwa permasalahan ini dapat dijernihkan dengan mengatakan bahwa prinsip kerja tanda bukanlah menyatukan benda dengan sebuah nama atau kata, melainkan menyatukan konsep dengan sound image. Sebuah kata yang ditulis misalnya, merupakan kesatuan antara tulisan yang bersifat riil dan sebuah konsep tentang realitas yang bersifat abstrak.
Saussure merasa hubungan konsep dan sound image agak ambigu karenanya ia mengganti hubungan tersebut dengan mengganti “konsep” dengan istilah “petanda” dan “sound-image” sebagai penanda.
Tanda memiliki sifat arbiter atau sewenang-wenang. Kesewenang-wenangan tanda berarti bahwa tidak ada alasan kenapa kita memilih tanda tersebut, yang ada hanyalah kesepakatan bersama, konvensi, tentang tanda yang akan digunakan untuk merepresentasikan suatu realitas.Padangan Saussure berikutnya adalah mengenai sistem tanda, khususnya bahasa, yang juga bersifat arbiter. Terdapat dua jenis sistem tanda, seperti yang dimaksud oleh Saussure yaitu sintaksis dan paradigma. Sintaksis berarti bahwa bahasa itu bersifat linier, diatur oleh waktu atau rentetan. Sebagai contoh adalah struktur subjek-prediket-objek-keterangan yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesa. Dalam satu waktu, tanda tersebut akan memiliki hubungan dengan tanda lainnya, mungkin dengan kondisi seperti ini bisa terjadi substitusi tanda.
Saussure kemudian mengatakan bahwa penting sekali mempelajari tanda dan hubungannya dengan tanda-tanda lainnya, sebuah hubungan antar tanda. Normalnya tanda yang digunakan oleh manusia bukanlah tanda tunggal melainkan kelompok tanda yang disusun secara kompleks.
Dalam karya visual, hubungan antar tanda, sintaksis dan paradigma akan tetap ada. Jika dalam bahasa hubungan sintaksis menyangkut masalah waktu yaitu sebelum dan sesudah maka dalam karya visual yang perlu menjadi perhatian adalah masalah sintaksis. Gunthe Kress dan Theo van Leeuwen mengidentifikasi tiga kunci utama dalam naskah visual yaitu kanan/kiri, atas/bawah, tengah/pinggir. Untuk analisis paradigmatik biasanya digunakan pertanyaan mengenai alternatif, kenapa harus menggunakan tanda ini, bukan tanda lainnya?
Aturan kanan/kiri atau aturan pada sumbu horizontal tidaklah berada dalam kondisi yang netral dalam berbagai budaya. Penulisan latin lazimnya dimulai dari kiri dan bergerak ke kanan, sementara dalam budaya Arab aturan penulisan justru sebaliknya, yaitu dimulai dari kanan ke kiri. Dalam studinya mengenai masalah ini Kreuss dan van Leeuven memberikan kesimpulan umum yang mengatakan bahwa budaya menulis dan membaca dari kiri ke kanan telah diterima secara luas, hal ini menjadikan kebanyakan pekerja seni visual memanfaatkan bagian kiri dari pusat sebagai sesuatu yang bersifat “lama” dan untuk bagian kanan dari pusat menunjukkan sesuatu yang bersifat “baru”.
Komposisi vertikal yang mengatur mengenai atas/bawah juga membawa konotasi tersendiri. Atas biasanya dikonotasikan sebagai suatu kebaikan, kesehatan, kendali, kesadaran, ketinggian status, sementara bawah merupakan konotasi dari keburukan, penyakit, kebodohan, kerendahan status.
Permasalahan berikutnya adalah mengenai tengah/pinggir. Kress dan van Leeuven menyebutkan bahwa komposisi karya visual juga menghormati prinsip ini. Suatu benda yang diletakkan di tengah memiliki arti sebagai sesuatu yang bersifat utama, pusat informasi, seolah-olah informasi lain hanyalah informasi tambahan atau sebagai pinggiran.
Semiotika memiliki peranan besar dalam memaknai banyak hal. Mempelajari tanda berarti mempelajari bahasa, mempelajari kebudayaan. Dalam tingkatan praktis kita dapat menggunakan semiotika sebagai alat analisis karya-karya konsumsi publik, bagaimana karya tersebut ditampilkan, bagaimana pembuat karya menyusun dan menyimpan kode-kode yang jika kita lihat secara sekilas tidak memiliki arti apapun. Penerapan semiotika analisis terhadap iklan akan dimuat dalam tulisan lain.
Subscribe to: Post Comments (Atom)
Unsur-Unsur Intrinsik Puisi
1) Tema : ide atau gagasan yang menduduki tempat utama di dalam cerita.
2) Rasa : arti emosional ( sedih, atau merasa heran dsb).
3) Nada : Intonasi puisi ( suara keras atau lembut) ; penyair dapat menggurui,
mencaci, merayu, merengek,menyindir, mengajak dsb terhadap pembaca atau
pendengar.
4) Amanat
5) Diksi
6) Imajinasi
a. Imajeri pandang
b. Imajeri dengar
c. Imajeri rasa
d. Imajeri kecap
7) Kata-kata kongkret
8)Gaya bahasa
9) Ritme
10) Rima
2) Rasa : arti emosional ( sedih, atau merasa heran dsb).
3) Nada : Intonasi puisi ( suara keras atau lembut) ; penyair dapat menggurui,
mencaci, merayu, merengek,menyindir, mengajak dsb terhadap pembaca atau
pendengar.
4) Amanat
5) Diksi
6) Imajinasi
a. Imajeri pandang
b. Imajeri dengar
c. Imajeri rasa
d. Imajeri kecap
7) Kata-kata kongkret
8)
9) Ritme
10) Rima
Unsur-unsur dalam Karya Sastra
Ada dua unsur utama dalam karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur ekstrinsik berupa segala sesuatu yang menginspirasi penulisan karya sastra dan mempengaruhi karya sastra secara keseluruhan. Unsur ekstrinsik ini meliputi: latar belakang kehidupan penulis, keyakinan dan pandangan hidup penulis, adat istiadat yang berlaku pada saat itu, situasi politik (persoalan sejarah), ekonomi, dsb. Sementara unsur intrinsik terdiri atas:
Tema
Pokok persoalan dalam cerita.
Karakter
Tokoh dalam cerita. Karakter dapat berupa manusia, tumbuhan maupun benda
Karekter dapat dibagi menjadi:
- Karakter utama: tokoh yang membawakan tema dan memegang banyak peranan dalam cerita
- Karakter pembantu: tokoh yang mendampingi karakter utama
- Protagonis : karakter/tokoh yang mengangkat tema
- Antagonis : karakter/tokoh yang memberi konflik pada tema dan biasanya berlawanan dengan karakter protagonis. (Ingat, tokoh antagonis belum tentu jahat)
- Karakter statis (Flat/static character) : karakter yang tidak mengalami perubahan kepribadian atau cara pandang dari awal sampai akhir cerita.
- Karakter dinamis (Round/ dynamic character): karakter yang mengalami perubahan kepribadian dan cara pandang. Karakter ini biasanya dibuat semirip mungkin dengan manusia sesungguhnya, terdiri atas sifat dan kepribadian yang kompleks.
Catatan: karakter pembantu biasanya adalah karakter statis karena tidak digambarkan secara detail oleh penulis sehingga perubahan kepribadian dan cara pandangnya tidak pernah terlihat secara jelas.
Karakterisasi
Cara penulis menggambarkan karakter. Ada banyak cara untuk menggali penggambaran karakter, secara garis besar karakterisasi ditinjau melalui dua cara yaitu secara naratif dan dramatik. Teknik naratif berarti karakterisasi dari tokoh dituliskan langsung oleh penulis atau narator. Teknik dramatik dipakai ketika karakterisasi tokoh terlihat dari antara lain: penampilan fisik karakter, cara berpakaian, kata-kata yang diucapkannya, dialognya dengan karakter lain, pendapat karakter lain, dsb.
Konflik
Konflik adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan . Konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot. Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar:
Konflik internal
Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut
Konflik eksternal Individu – Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lainIndividu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya.
Seting
Keterangan tempat, waktu dan suasana cerita
Plot
Jalan cerita dari awal sampai selesai
- Eksposisi : penjelasan awal mengenai karakter dan latar( bagian cerita yang mulai memunculkan konflik/ permasalahan)
- Klimaks : puncak konflik/ ketegangan
- Falling action: penyelesaian
Simbol
Simbol digunakan untuk mewakili sesuatu yang abstrak. Contoh: burung gagak (kematian)
Sudut pandang
Sudut pandang yang dipilih penulis untuk menyampaikan ceritanya.
- Orang pertama: penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, ini ditandai dengan penggunaan kata “aku”. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak mengetahui segala hal yang tidak diungkapkan oleh sang narator. Keuntungan dari teknik ini adalah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita.
- Orang kedua: teknik yang banyak menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘Anda.’ Teknik ini jarang dipakai karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita.
- Orang ketiga: cerita dikisahkan menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka dan dia.
Teknik penggunaan bahasa
Dalam menuangkan idenya, penulis biasa memilih kata-kata yang dipakainya sedemikian rupa sehingga segala pesannya sampai kepada pembaca. Selain itu, teknik penggunaan bahasa yang baik juga membuat tulisan menjadi indah dan mudah dikenang. Teknik berbahasa ini misalnya penggunaan majas, idiom dan peribahasa.
Selasa, 04 Mei 2010
Senin, 03 Mei 2010
Langganan:
Postingan (Atom)