FISH

Loading...

Rabu, 20 Oktober 2010

DALAM JEJAK


Dalam jejak

Dalam jejak jalan setapak yang menanjak
Nanar aku di kelelahan yang membuncah
Carrier hanyalah benda yang ingin kulempar saja ke jurang
Tapi itulah nyawa
Andai aku melemparnya
Itu berarti aku melempar  nyawaku ke sana
Air….
Aku hanya ingin setetes air
Dahaga ini pasti hilang
Langkahku pasti semangat lagi
Lalu aku membalikkan tubuhku ke belakang
Ohh Tuhan....
Sungguh aku telah melupakan
Bahwa di belakangku membentang hamparan hijau yang tak terlukiskan kata
Kelu …. Subhanallah
Liku sungai itu, deretan bukit-bukit itu, awan yang susul menyusul itu,
Kota, Desa, sawah, ladang, danau, dan semua yang aku lihat sekarang
Sejenak aku merenung
Betapa aku hanyalah setitik nokhta dalam luasnya jagat raya
Siapa??? Aku bukan siapa-siapa
Kesombongan telah membawaku ke jalan setapak ini
Kesombongan menaklukkan puncak gunung
Kesombongan ketika mendapat pujian dari kawan, keluarga, kenalan
Bahwa inilah pendaki yang telah mencapai puncak
Bahwa inilah seorang pecinta alam sejati
Bahwa inilah…inilah… 
                          Huh… tidaaaakkk, bukan itu, bukan!!            
Aku menapak di sini sekedar ingin menikmati
Keindahan yang tak banyak orang yang menikmati
Sebuah harapan mendekati alam yang semakin menjauhi kehidupan
Sebuah tulus cinta untukmu
Sahabatku alam

Kumenanti Seorang Pendaki

Kilau Matamu bagai  riak banyu Segara Anak,
Sejuk menusuk hingga ke tulang rusuk
Kilas senyummu bagai  cerah mentari di  pagi hari
Ssenantiasa dinanti di  puncak gunung ini

Bijak kata-katamu  bagai  semilir  bayu di hamparan sabana Tengegean
Membuai siapa saja yang kelelahan
Lembut sapamu bak rangkaian awan di lazuardi
Dan tulus kasih sayangmu….
Bagai putih salju di puncak Jayawijaya , Himalaya, ataupun Alaska

Kekagumanmu  pada gunung, pada langit, pada bumi, pada pengisinya
Adalah bukti keagungan  cintamu pada Ilahi
Pendaki…
Katamu… gunung adalah pasak bumi
Hingga bumi tiada goyah oleh ganas hempasan samudera
Sehingga asamu bagai gunung
Tiada goyah oleh ganasnya gelombang kehidupan
Setangkai Edelweis lambang cinta abadi itu
Kudamba  kau  rangkaikan di hati
Bukan mawar bukan melati
Kuhanya ingin kembang cantigi
Sebagai pengobat luka hati yang akan  kaubalutkan nanti
Pendaki….
Kepadamu sesungguhnya hendak kulabuhkan hati
Dalam lelah pencarian dalam penat penantian
Walau katamu lelaki tidaklah kamu saja
Namun kataku kuingin kamu saja
Hingga bila tubuh terbujur kaku
Kugenggam erat dalam pelukmu
Pendaki….
Dirimu ….
Yang kunanti!!!!
(Januari 2003
Jejak

Andai jejak adalah masa lalu,
Maka ijinkanlah aku untuk terus menapaki jalan setapak ini
Karena itulah masa yang akan datang
Walau nafas tinggal  satu helaan lagi, walau peluh tak menetes lagi
Dan darah tak mengalir lagi

Jiwa.. yang pasti itulah yang akan kubawa
Dan raga biarlah tercampak  di hamparan  sabana

Andai jejak itu adalah masa lalu
Biar aku mengenang saat-saat  indah itu
Dalam pekat malam merayap di antara tebing-tebing sunyi
Menahan hampa dalam dekapan jauh sinar rembulan

Jiwa… biarlah tenang dalam dekapannya
Menghembus untuk terakhir kali
Dalam damai
Dalam naunganmu
Di sana
Di puncak  tertinggi
(lupa tahun berapa...)













Rasa itu

Dulu….kepadamu aku mengeluh
Ratusan malam bercerita
Terdengar tidak terdengar olehmu
Hatiku selalu berbisik kepadamu
Menyuarakan rasa yang sebenarnya aku benci merasakannya
Karena rasa itu telah merenggut hari-hariku yang ceria

Ahhh, Sekali lagi aku bennnnci merasakannya
Bahwa aku ingin sekali melupakannya
Tapi……
Ternyata tak mudah untuk beranjak menanggalkan semua rasa yang telah ada

Mudah memang untuk berbicara
Bahwa luka hati tak kan selamanya
Tapi rasa itu adalah untuk selamanya
Ia datang untuk tinggal bukan untuk pergi
Akankah aku bisa melupakannya?
Karena aku sesungguhnya tak kan bisa melupakannya
Bilakah melupakannya?
Mungkin Aku akan melupakannya!!

Rasa itu….
Mungkin menyiksaku
Tapi…
Mungkin juga kelak membahagiakanku
Hanya saja mulut yang masih berbuih
Memekikkan duka karena rasa itu
Adakah kamu mendengarnya??



Ifien punya 

BENALU TUA

Aku hadir dalam batas-batas kewajaran
Di antara rekahan pohon tumbang yang mengering
Ingin sekali memberi sentuhan hijau pada daun-daun
Yang berserakan

Entahlah…
Aku hanya benalu tua yang sebentar lagi mati
Pokok tempatku bernaung terbujur kaku dimakan waktu
Ranting-ranting tempatku bermain telah tersapu

Ah aku hanyalah benalu
Yang tak tahu malu
Lihatlah daun-daun itu
Kelaparan dan berguguran karena aku

Biarlah di sisa masa
Akan aku raih saja
Daun mana yang termuda
Ambillah hijauku untukmu
Demi generasimu
Demi tunas-tunasmu

Ifien punya











Rinduku Kerinduanku

Kutatap mega-mega-Mu dalam kerinduan yang membuncah
Aku mengerang pada rangkaian awan yang beriringan

Tuhan…..
Beri Aku harapan akan ampunan
Beri Aku pijakan dalam kegamangan

Kerinduanku akan naungan kasih-Mu
Dalam siang dan malamku
Bilakah jiwa menjadi bagian-Mu?
(Lagi gelisah nihh di kos....)







Minggu, 20 Juni 2010

GhamblangBlog's: Hubungan Antara Bimbingan Karir dan Pemilihan Karir

goggle.com GhamblangBlog's: Hubungan Antara Bimbingan Karir dan Pemilihan Karir

Hubungan Antara Bimbingan Karir dan Pemilihan Karir






HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN KARIR DENGAN
KETEPATAN PEMILIHAN KARIR


Proposal Skripsi (Metodelogi Penelitian)
Dosen Pengampu: Dra. M.Th.S.R. Retnaningdyastuti, M.Pd




Disusun Oleh:

Nama              : Diyat Saputra




PENDIDIKAN PSIKOLOGI DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI SEMARANG
2010

HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN KARIR DENGAN KETEPATAN PEMILIHAN KARIR

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Indonesia mempunyai suatu tujuan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsadan mengembangkan manusia seutuhnya. Hal ini secara langsung dan bersama-sama menjadi landasan arah pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu unsur dalam program pendidikan di sekolah, maksudnya yaitu bahwa dalam proses pendidikan terdapat 3(tiga) aspek kerangka pendidilkan seperti administrasi, supervisi, pengajaran kurikuler bimbingan dan konseling. Dari tiga aspek tersebut jika dapat terlakasana dengan baik maka akan menghasilkan tujuan pendidikan yang optimal bagi individu.
Bimbingan karir sangat berguna bagi siswa. Menurut Sukardi (1987:31-32) tujuan bimbingan karir di sekolah ialah 1) membantu siswa dalam memahami diri dan lingkungan , 2) perencanaan, 3) pengarahan kegiatan yang menuju pada karir dan cara hidup yang memberikan kepuasan serasi, selaras dan seimbang dengan diri dan lingkungan, 4) mengambil keputusan.
Menurut Winkel dan Hastuti (2004) bmbingan karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia pekerjaan, memilih lapangan pekerjaan atau jabatan/profesi tertentu, serta membekali diri supaya siap memangku jabatan/profesi tertentu dan menyesuaikan diri dengan lingkungan poekerjaan yang dimasuki. Maka dari itu, peranan bimbingan karir di sekolah dalam hal era pembangunan dewasa ini memiliki peranan penting terutama bertujuan untuk: a) memberikan kemampuan, ketrampilan dan sikap yang sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat, b) memberikan kemampuan dan ketrampilan kusus sesuai dengan potensi siswa dalam berbagai jenis pekerjaan tertentu yang langsung diterapkannya.
Pada dasarnya pelaksanaan bimbingan karir di sekolah berlangsung searah dan sejalan dengan pendidikan karir. Dengan merujuk Kennet B. Hoyt dan Daryl Laramore, (Sukardi, 1987) mengemukakan bahwa pendidikan karir adalah totalitas dari usaha, jalan atau cara yang terutama dan satu-satunya disentuh dalam proses belajar dan dikaitkan dengan pekerjaan, atau dengan pengertian lain pendidikan yang dijalani oleh individu mempunyai implikasi terhadap pekerjaan yang akan didipilihnya setelah individu yang bersangkutan menamatkan studinya.

B.     Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah usaha yang dilakukan peneliti dalam upaya menemukan masalah. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka masalah dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :
Dalam pemilihan karir masih banyak siswa yang bingung, tidak dapat memilih atau menentukan karir mana yang sesuai dengan dirinya atau ada kemungkinan mereka meilih karir secara acak.

C.    Pembatasan Masalah
Upaya untuk mencegah ketidak sesuaian tersebut yaitu melalui bimbingan karir dengan memberikan informasi dan pengetahuan mengenai dunia kerjadan jabatan. Namun dalam penelitian karir ini hanya mengungkap tentang bimbingan karir dan pemilihan karir.

D.    Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hunganya antara bimbingan karir dengan pemilihan karir?

E.     Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus
1. Tujuan umum penelitian yaitu untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara bimbingan karir dengan pemilihan karir
2.      Tujuan khusus penelitian yaitu :
a.       Membantu siswa memperoleh ilmu pengetahuan mengenai dunia kerja sehingga kelak tidak ada penyesalan di kemudian hari setelah bekerja
b.      Membantu siswa dalam menentukan arah pilihan karir yang tepat dan sesuai dengan potensi yang dimilikimya
c.       Mempermudah guru dalam menyampaikan informasi kepada siswa



F.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat diharapkan, dapat dipergunakan sebagai tambahan pengetahuan tentang bimbingan karir dan pemilihan karir siswa serta dapat digunakan sebagai informasi didalam pendidikan khususnya bimbingan dan konseling.
2.      Manfaat Praktis
3.      Bagi sekolah: dapat dijadikan masukan dalam bimbingan dan konseling khususnya dalam bidang layanan bimbingan karir, sehingga  diketahui manfaat bimbingan karir dalam menentukan arah dan mengarahkan karir siswa sesuai bakat, minat dan kemampuan siswa yang dimilikinya.
4.      Bagi siswa: dapat dijadikan pedoman dan menambah pengetahuan mengenai bimbingan karir serta memudahkan dirinya memutuskan karir yang dipilihnya.
5.      Bagi guru pembimbing: dapat menambah ilmu pengetahuan tentang hubungan bimbingan karir terhadap pemilihan karir siswa dalam menentukan arah pilihan karirnya .

G.    Definisi Operasional Variabel
Defines operasional variabel merupakan informasi iliah yang dijadikan pedoman peneliti yang menggunakan variabel yang sama dan untuk mengetahui cara-cara pengukuran untuk mengukur suatu variabel .
Adapun penelitian  yang penulis lakukan adalah penelitian pada :
1.      Bimbingan Karir
Bimbingan karir merupakan suatu proses bantuan yang diberikan oleh seseorang yang ahli dibidang bimbingan dan konseling kepada individu agar mapu memilih karir yang sesuai untuk dirinya, dengan indikator : a) informasi bimbingan karir, b) manfaat bimbingan karir, c) informasi macam-macam pekerjaan, d) informasi macam-macam perguruan tinggi.
2.      Permulaan Karir
Penentuan arah pilihan karir bukanlah semata-mata lahir dari hasil lamunan atau angan-angan, tetapi karir sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Sehingga pemilihan karir atau jabatan merupakan pantulan motifasi, pengetahuan dan kepribadian seseorang dengan segala pengaruh budaya serta peran kepuasan terhadap suatu pandangan hidup, suatu lingkungan untuk menetapkan funsi-fungsi atau ketrampilan kerja. Dengan indicator : a) Adanya minat, b) adanya bakat, c) cita-cita dan d) Kepribadian.
KAJIAN TEORI
H.    Bimbingan Karir
1.      Pengertian Bimbingan Karir
Menurut Hibana S. Rahaman (2003) berpendapat bahwa bimbingan karir adalah layanan bimbingan yang diberikan kepada siswa untuk dapat merencanakan dan menggambarkan masa depannya berkaitan dengan dunia pendidikan maupun dunia karir. Pengertian diatas senada dengan pengertian yang diberikan oleh Winkel dan Hastuti (2004) bahwa bimbinga karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan / profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki. Menurut Sugiyono dan Sugiharto (2000) bimbingan karir adalah jenis bimbingan yang membantu siswa dalam menghadapi dunia kerja, perencanaan karir, penyesuaian kerja, pemilihan lapangan kerja dan pemahaman terhadap dirinya serta kemungkinan-kemungkinan pengembangan karir.
Kesimpulan berbagai pengertian diatas bahwa bimbingan karir adalah proses bantuan diberikan seorang ahli dibidang bimbingan dan konseling kepada siswa dalam menyelesaikan masalah pengambilan dalam bidang kariryang ingin ditempuh.
2.      Tujuan Bimbingan Karir
Adapaun tujuan bimbingan karir menurut Sukardi (1987:32) dibedakn menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusu dan diuraikan sebagai berikut :
a.       Tujuan Umum
Secara umum tujuan bimbingan karir adalah membantu siswa dalm pemahaman dirinya dan lingkungannya, dalam mengambil keputusan , perencanaan, pengarahan kegiatan karir dan cara hidup yang akan memberikan ras kepuasan karena sesuai serasi dan seimbang dengan dirinya dan lingkungannya. (Sukardi, 1987:31-32 ).
b.      Tujuan Khusus
Tujaun khusus bimbingan karir meliputi : 1) meningkatkan pengetahuan tentang dirinya sendiri , 2) meningkatkan pengetahuan tentang dunia kerja, 3) mengembangkan sikap dan nilai diri sendiri dalam pilihan lapangan kerja serta persiapan memasuki kerja, 4) meningkatkan ketrampilan berfikir agar mampu mengambil keputusan tentang jabatan yang sesuai dengan dirinya dalam dunia kerja, 5) menguasai ketrampilan dasar yang penting dalam pekerjaan terutama kemampuan bertelekomunikasi dan bekerjasama.

3.      Personel Pelaksana Pelayanan Bimbingan Karir
Personel pelaksana pelayanan bimbingan karir adalah segenap unsur yang terkait didalam organisasi pelayanan bimbingan koordinasi dan guru pembimbing atau konselor sebagai pelaksana utama. Uraian tugas-tugas personel dalam bimbingan karir  adalah sebagai berikut :
a.       Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan secar menyeluruh di sekolah yang bersangkutan. Tugas-tugas Kepala Sekolah adalah: 1) mengkordinasikan segala kegiatan diprogamkan di sekolah sehingga menjadi kesatuan yang terpadu, harmois dan dinamis, 2) menyediakan prasarana, tenaga dan berbagai kemudahan bagi pelaksanaanya bimbingan yang efektif dan efesien, 3) melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan progam, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan di sekolah kepada Kanwil/kandep yang menjadi alasannya.
b.      Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah bertugas membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepala sekolah termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling.
c.       Koordinasi Pembimbing
Koordinator bimbingan bertugas mengkoordinasi guru pembimbing dalam:   1) memasyarakatkan pelayanan bimbingan pada segenap warga sekolah, orang tua siswa dan masyarakat, 2) menyusun progam bimbingan, 3) melaksanakan progam bimbingan, 4) mengadministrasikan pelayanan bimbingan, 5) menilai progam pelaksanaan bimbingan, 6) memberi tindak lanjut terhadap hasil penilian bimbingan.


d.      Guru Pembimbing
Guru pembimbing sebagai pelaksana utama tenaga inti dan ahli, guru pembimbing dan konselor bertugas: 1) memasyarakatkan pelayanan bimbingan, 2) merencanakan progam bimbingan, 3) melaksanakan segenap pelayanan bimbingan, 5) menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan dan kegiatan pendukungnya, 6) melaksanakan layanan berdasarkan hasil penilaian, 7) mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam layanan bimbingan kepada koordinator   bimbingan.
e.       Guru Mata Pelajaran dan Pelatih
Peran guru mata pelajaran dan pelatih dalam layanan bimbingan adalah: 1) membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan kepada siswa, 2) membantu guru pembimbing mengidentifikasikan pelayanan bimbingan kepada siswa, 3) mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan kepada guru pembimbing ?konselor, 4) menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, 5) membantu mngembangkan suasana kelas, hubungan guru dengan siswa yang menunjang pelayanan bimbingan, 6) memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan atau kegiatan bimbingan untuk mengikuti kegiatan yang dimaksudkan itu, 7) berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa seperti konferensi kasus, 8) membantu mengumpulkan informasi yang diperlikan dalam rangka penilaian bimbingan dan upaya tindak lanjutnya.
f.       Wali Kelas
Dalam layanan bimbingan, wali kelas berperan: 1) membantu guru pembimbing/konselor melaksanakan tugas-tugas khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, 2) membantu guru mata pelajaran/pelatih melaksanakan perannya dalam pelayanan bimbingan, khususnya kelas yang menjadi tanggungjawabnya, 3) membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kels yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti kegiatan bimbingan.
4.      Materi Pokok Bimbingsan Karir
Menurut Hibana S. Rahman (2003) materi pokok bimbingan karir meliputi: a) pemahaman tentang bakat, minat dan kemampuan diri berkaitan dengan karir karir yang dikembangkan, b) pemahaman tentang berbagai macam profesi sebagai alternatif pengembagan karir, c) pemahaman dan pengembangan kemampuan wirausaha, d) pemahaman tentang berbagai macam jurusan dibidang pendidikan, e) pengembangan kemampuan kompetensi, f) pemahaman tentang strategi memilih sekolah tinggi dan menentukan jurusan, g) pengembangan kemampuan menegemen dan kepemimpinan.

I.       Ketepatan Pemilihan Karir
1.      Teori-teori pemilihan karir yang
Bebrapa teori yang mengungkapkan tentang pengertian pemilihan karir:
a.       Menurut Sukardi (1993:5) pemilihan setiap jabatan adalah tindakan   ekspresif yang memantulkan motifasi, pengetahuan, keppribadaian, dan kemampuan seseorang.
b.      Menurut Ginzberg (dalam Sukardi dan Sumiyati, 1994:41) secara umum memandang bahwa pendekatan utama suatu teori pemilihan karir bersumber pada sudut perkembangan ( Development)
c.       Menrut A nn Roe (dalam Sukardi dan Sumiati, 1994:43) mengungkapkan bahwa pola perkembangan arah pilihan pekerjaan terutama sangat ditentukan oleh kesan pertama yaitu pada masa bahwa bayi dan kanak-kanak, berupa kesan atas perasaan puas atau tidak puas, selanjutnya akan berkembang menjadi suatu kekuatan yang berupa energi psikis
d.      Menurut Donald Super (dalam Sukardi dan Sumiati, 1994:49) memandang bahwa pemilihan karir merupakan implementasi dari konsep diri.
e.       Menurut Caster (dalam Sukardi dan Sumiati, 1994:49) menyatakan bahwa sikap fokasional individu berkembang dari usaha untuk menyesuaikan secara langsung terhadap keluarga dan tuturan social kepada persepsinya sendiri terhadap kebutuhan dan kemampuan.
Berdasarkan beberapa teori dari tokoh-tokoh diatas maka, dapat disimpulkan bahwa penentuan arah pilihan karir berasal dari sikap atau perilaku dari individu itu sendiri, selain itu individu mampu menentukan arah dan tujuan dalam kehidupan agar menjadi individu yang lebih baik dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
2.      Pertimbangan –pertimbangan dalam pemilihan karir
a.       faktor Internal
Winkel dan Hatuti (2004) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan karir ada dua faktor yaitu faktor Internal dan Eksternal. Adapun faktor internal meliputi: a) nilai-nilai kehidupan ( Valves) yaitu ideal-ideal yang dikejar oleh seseorang dimana-man dan kapanpun, b) minat yaitu ideal-ideal yang dikejar oleh seseorang untuk merasa tertarik pada suatu bidang, c) sifat-sifat yaitu cirri-ciri kepribadian yang memeberikan corak khas pada seseorang, d) pengetahuan yaitu informasi yang dimiliki tentang diri sendiri dan bidang tertentu, e) keadaan jasmani yaiatu cirri-ciri fisik yang dimilki seseorang.
b.      Faktor Eksternal
Yang termasuk dalam factor eksternal adalah a) masyarakat yaitu lingkungan social budaya dimana orang muda dibesarkan, b) keadaaan social ekonomi negara atau daerah yaitu laju pertumbuhan ekonomi tinggi, tengah dan sedang serta disertifikasi masyarakat kelompok terbuka dan tertutup bagi anggota dalam kelompok lain, c) status sosisal ekonomi keluarga yaitu setingkat pendidikan orangtua, tinggi rendahnya pendapatan orangtua, jabatan ayah, daerah tempat tinggal dan suku bangsa, d) pengaruh dari seluruh anggota keluarga besar dan inti, e) pendidikan sekolah yaitu pandangan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam bekerja, tinggi rendahnya jabatan dan kecocokan tertentu untuk anak laki-laki atau perempuan, f) pergaulan teman-teman sebaya yaitu pandangan tentanag masa depan yang terungkap dalam pergaulan sehari-hari, g) tuntutan yang melekat pada masing-masing jabatan dan progam-progam studi atau latihan dalam mempersiapkan seseorang untuk diterima pada jabatan tertentu dan berhasil didalamnya .
3.      Langkah-langkah Pemilihan Karir
Menurut Gellatt’s (dalam Sukardi dan Sumiati, 1994:59) teori keputusan adalah salah satu metode yang digunakan untuk menjelaskan prioses pemilihan karir dan kemudian memberikan sesuatu kerangka kerja atau pedoman kerja darimana tujuan konseling bisa dicapai. Ada beberapa langkah dalam proses pengambilan keputusan, diantaranya melalui langkah-langkah berikut:
  1. Langkah pertama: dimulai apabila individu mengenal kebutuhan untuk mengambil keputusan, kemudian menentukan sasaran atau tujuan.
  2. Langkah kedua: individu perlu mengumpulkan data dan mengadakan survey tentang kemungkinan bidang kegiatan.
  3. Langkah ketiga: melibatkan penggunaan data dalam menentukan kemungkinan bidang kegiatan, hasil-hasil dan kemungkinan kebehasilan.
  4. Langkah keempat: mengestimasi hasil-hasil yang dikehendaki, perhatian dipusatkan pada system nilai individual.
  5. Langkah kelima: melibatkan evaluasi dan seleksi suatu keputusan ialah suatu keputusan terminal atau investigasi keputusan. Jika keputsan terminal dijangkau, maka individu mualai kembali  menilai kemungkinan dan hasil dari keputusannya dalam kaitannya dengan sistem prediksi.

J.      Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya (Kalau Ada) yang Relevan Dengan Variabel Penelitian
Penelitian ini mempermasalahkan hubungan bimbingan karir dengan pemilihan karir. Dalam penelitian ini hipotesis yang diajukan adalah ada tidaknya hubunan bimbingan karir dengan p[emilihan karir. Hipotesis yang berbunyi berarti ada hubungan positif dan signifikan antar bimbingan karir dengan pemilihan karir dan dapat diterima kebenarannya. Sedangkan hipotesis nol berbunyi tidak ada hubungan positif dan signifikan anatara bimbingan karir denagan pemilihan karir dan tidak sesuai atau ditolak kebenarannya.

K.    Kerangaka BerFikir
Pemilihan tentang jenis pekerjaan, jabatan dan karir yang di idam-idamkan oleh seseorang tidak dapatdisangka lagi, mempunyai kaitan erat dengan pendidikan yang harus diselesaikan dalam rangka mempersiapkan diri dalam rangka memasuki dunia kerja, jadi dapat dikatakn bahwa ketepatan dalam mengambil keputusan tentang pendidikan yang akan dijalani memiliki dampak tertentu dalam menentukan arah pilihan jabatan atau karir setelah menamatkan studinya.
Kesalahan, kekeliruan dan ketidaktepatan dalam mengambil keputusan pemiliha karir yang akan dijalani memiliki prospek yang suram dalam menentukan arah pilihan jabatan dan memeperoleh lapangan pekerjaan  dimasa depan. Diharapkan dengan adanya bimbingan karir, anak didik di sekolah akan memiliki pemahaman tentang arti kerja. Dalam usaha pengembangan karir peran bimbingan karir termasuk pula tentang pendidikan karir yang tidak boleh diabaikan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bimbingan karir memiliki peranan penting yaitu membantu individu agar mampu membuat keputusan dalam pekerjaannya.
Melalui bimbingan karir di sekolah maka siswa akan mendapatkan informasi, pengetahuan dan pemahaman diri serta wawasan mengenai pendidikan, pekerjaan, jabatan dan sebagainya. Sehingga memungkinkan siswa untuk mempermudah dalm mengambil keputusan pemilihan karir yang tepat untuk dirinya dimasa akan dating. Dengan demikian siswa tidak mengalami kebingungan untuk mengetahui keinginan dan cita-citanya dalam hal karir pekerjaan.

L.      Hipotesis
Hipotesis adalah satu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2002:64). Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan, peneliti mengajukan hpotesis kerja yaitu. Ada hubungan bimbingan karir dengan pemilihan karir.

M.   Variabel Penelitian
Variabel penelitian pada dasarnya merupakan hal yang diselidiki dlam penelitian. Variabel merupakan konsep yang dimiliki lebih dari satu nilai, kategori atau atribut secara lgis seperti: pria dan wanita merupakan variabel seks (Jenis Kelamin), tua dan muda merupakan variabel usia, buuruh dan majikan merupakan variabel status, merah, putih, biru, kuning dan lain-lain sebagai variabel warna.(Soegeng,2006:63).
Selanjutnya berat ukuran, bentuk dan warna merupakan atribut dari objek. Atribut ini akan bervariasi apabila terjadi pada sekelompok  orang atau objek yang diambil secara random. Bila tinggi badan, ukuran bentuk, motifasi kerja, kemampuan, gaya kepemimpinan dari 30 orang sama, maka itu bukanlah variabel. Jadi, dikatakan bahwa variabel karena ada variasinya (Sugiono, 2002:2)
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:101) variabel dibedakan menjadi dua yaitu variabel yang mempengaruhi dan variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X) sedangkan variabel akibat disebut variabel tak bebas, variabel tergantung, variabel terikat atau independent variable (Y).




Variabel dapat dibedakan atas variabel kuantitatif dan variabel kualitatif.
Variabel kuantitatif di klasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu
1.      Variabel Diskrit
Variabel diskrit disebut juga variabel nominal atau variabel kategori karena hanya dapat dikategorikan atas dua kutub yang berlawanan, yakni Ya atau Tidak.contohnya adalah wanita-pria, hadir tidak hadir dan atas bawah. Variabel yang digunakan dalam variabel diskrit ini digunakan untuk menghitung banyaknya pria dan banyaknya yang hadir dan sebagainya.
2.      Variabel Kontinou
Variabel kontinou dibedakan menjadi tiga variabel yaitu
3.      Variabel ordinal yaitu variabel yang menunujukan tingkatan-tingkatan misalnya panjang , kurang panjang dan pendek.
4.      Variabel interval yaitu variabel yang mempunyai jarak dan jarak itu dapat diketahui dengan pasti.
Contoh: Suhu udara iluar 31° C, suhu tubuh manusia 37 ° C, maka selisih suhu 6°C
5.      Variabel Ratio yaitu variabel perbandingan
Contoh: Berat pak Karto 70 kg, sedangkan anaknya 35 kg, maka, pak Karto beratnya dua kali berat anaknya. (Suharsimi Arikunto, 2006:94-95).
Untuk variabel penelitian terdapat dua hal yang diperhatikan yaitu:
6.      Sifat Variabel
Ditinjau dari sifatnya variabel penelitian dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Variabel Statis yaitu variabel yang tidak dapat diubah keberadaannya seperti jenis kelamin, status social ekonomi, tempat tinggal dan lain-lain. Andaikata hasil penelitian menunjukan sesuatu yang merupakan akibat dari variabel-variabel tersebut peneliti tidak dapat mengubah atau mengusulkan untuk mengubah variabel yang dimaksud. Variabel statis disebut juag variabel tak berdaya.
b. Variabel dinamis yaitu variabel yang dapat diubah keberadaannya berupa kedisiplinan, motifasi kepedulian, pengaturan dan sebagainya. Andaikata hasil penelitian sesuatu yang merupakan akibat dari variabel-variabel tersebut, maka peneliti dapat mengubah atau mengusulkan untuk mengubahnya. variabel dinamis disebut juga variabel terubah.



7.      Status Variabel
Dalam membicarakan status variabel seseorang peneliti perlu melihat satu variabel dalam hubungan dengan variabel lain. Semua variabel mempunyai status penting, tetapi jika dibandingkan antara dua status berikut ini, maka seorang peneliti dapat menentukan mana yang lebih bermakna dalam penelitian.
Adapun contohnya sebagai berikut:
a.       Kebiasaan hidup sehari-hari :  Motivasi Berprestasi
b.      Motifasi Berprestasi : Etos Kerja
c.       Etos Kerja  : Keberhasilan Kerja
Didalam setiap kaitan-kaitan variabel tersebut, variabel yang disebut variabel pertama merupakan penyebab variabel kedua. Variabel pertama berststus sesuatu yang akan dilihat peranannya terhadap variabel yang disebut variabel kedua.
Keemanfaatan penelitian selalu dilihat dari variabel pertama, apa yang dapat dilakukan oeleh seorang peneliti atau apa saja yang dapat disarankan peneliti terhadap orang lainagar tampak bahwa kegiatan-kegiatan penelitian yang kita lakukan mempunyai manfaat yang cukup besar. (Suharsimi Arikunto, 2006:101-104)
Berdasrkan uraian diatas variabel dapat diartikan segala yang akan menjadi objek penelitian, mempunyai nilai kuantitatif maupun kualitatif. Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Yang menjadi variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah Bimbingan Karir sedangkan yang menjadi variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah  Pemilihan Karir.

N.    Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
Populasi adalah keseluruhan dari sasaran penelitian. Populasi juga disebut sebagai arah atau tujuan generalisasi artinya kepada Apa / Siapa hasil penelitian akan dialamtkan atau bagi Apa / Siapa temuan-temuan itu berlaku (Soegeng; 2006:70)
Populasi juga dibedakan  antara populasi target dengan populasi terukur atau “accessable population”.
1.      Populasi terukur adalah popualsi yang secar ril dijadikan dasar dalam penentuan sample dan secar langsung menjadi lingkup sasaran keberlakuan kesimpulan
2.      Populasi target adalah populasi yang objek penelitiannya diperoleh dengan cara mengamati sebagian dari populasi, suatu reduksi terhadap jumalah objek penelitian. Tujaun lain dari penentuan Sampel adalah untuk mengemukakan dengan tepat sifat-sifat umum dari populasi dan untuk menarik generalisasi dari penyelidikan. (Marolalis, 2004:55-57)
Sampel adalah bagian dari populasi yang diambila secar benar, karenanya dapat mewakili secar representative. Sebagaian terbesar penelitian dilakukan dengan hanya meneliti sebagian dari anggota populasi.contoh seorang dokter yang ingin tahu golongan darah seseorang hany dengan memeriksa sebagaian kecil darah orang tersebut. (Soegeng, 2006:71)
Menurut Suharsimi (2006:112) untuk sekilas anter-anter maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian p[opulasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambila antar 10-15% atau 20-25% atau lebih.
Teknik pengambilan sampling dalam penelitian iini menggunakan sampling jenuh yaitu teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal iini sering dilakukan bila jumlah p[opulasi re;atif kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, diaman semua anggota populasi dijadikan Sampel (Sugiono, 2002:61)


Daftar Pustaka
 Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.
Mardalis. 2002. Metode Pnelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara.
Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hadi Sutrisno. 2001. Metodelogi Research. Yogyakarta: Andi Offset.
Sugiyo dan Sugiharto. 2000. Administrasi dan Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.
Sukardi, Dewa Ketut. 1993. Psikologi Pemilihan Karir. Jakarta: P.T Rineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut. 1994. Bimbingan Karir Sekolah Menengah. Jakarta: Asdi Mahastya.
Winkel dan Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan Yogyakarta.: Media Abadi



SKRIPSI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA, TINDAK TUTUR LOKUSI, ILOKUSI DAN PERLOKUSI PADA WACANA IKLAN RADIO GAJAH MADA FM SEMARANG


PERSETUJUAN

Kami selaku Pembimbing I dan Pembimbing II dari mahasiswa IKIP PGRI Semarang :
Nama               :  Diyat Saputra
NPM               :  07410632
Jurusan            :  Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Proposal    : Tindak Tutur dalam Wacana Iklan Berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini dibuat mahasiswa tersebut di atas telah selesai dan siap diajukan.



Semarang,   Juni 2010

Pembimbing I,                                                             Pembimbing II,


Nanik Setyawati, S.S., M.Hum                                  Drs. Suyoto, M.Pd
NPP 997101150                                                          NIP. 19640302 199112 1 001

PROPOSAL

A.      Judul : Tindak Tutur dalam Wacana Iklan Berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang

B.       Latar Belakang Masalah
                 Dalam kehidupan di masyarakat manusia selalu melakukan interaksi atau hubungan dengan sesamanya adalah bahasa. Bahasa dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti keduanya berhubungan erat. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling penting bagi manusia karena dengan bahasa manusia dapat mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran atau gagasannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik, manusia harus menguasai keterampilan berbahasa. Tarigan (1986 : 2) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa meliputi empat macam, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan bahasa mempunyai hubungan yang erat dan konsep berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran, semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula pikirannya.
                 Kridalaksana (1984 : 28) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang arbiter yangdigunakan untuk bekerja sama, berinteraksi, atau


1
mengidentifikasikan diri. Meningkatkan bahasa sebagai lambang makna dalam bahasa lisan lambang itu diwujudkan dalam bentuk tindak ujar dan dalam bahasa tulis wujud simbol tulisan dan keduanya memiliki tempat masing – masing. Baik bahasa lisan maupun tulisan digunakan manusia untuk berkomunikasi. Komunikasi secara langsung, misalnya ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Sedang yang melalui media, contoh iklan di televisi, siaran di radio, penulisan opini atau artikel di majalah, surat kabar, dan lain – lain.
                 Bahasa lisan dan tertulis dapat diungkapkan atau diwujudkan dengan menggunakan berbagai sarana, sarana yang digunakan untuk merealisasikan tuturan tersebut dapat diungkapkan melalui media massa, yakni melalui media elektronik maupun media cetak., media massa sebagai sarana komunikasi tidak hanya berarti pemberitahuan, namun berarti pula pengumuman, penerangan, penjelasan, penyuluhan, perintah, intruksi, nasehat, ajakan, rayuan, dan sebagainya (Effendi, 1986:61).
Media elektronik adalah media massa yang digunakan dalam komunikasi secara lisan. Media elektronik dapat berupa radio, televisi, telephon dan sebagainya. Media elektronik seperti radio dan televisi memiliki sifat begitu terdengar dan terlihat hilang tidak membekas. Oleh sebab itu, alat komunikasi bahasa tutur yang digunakan harus membekas pada ingatan, menarik, dan tidak mudah hilang dari pendengar dan penyimak.
Peran media massa tidak lepas dari komunikasi, komunikasi mempunyai fungsi yang bersifat purposif, mengandung maksud dan tujuan tertentu, dan dirancang untuk menghasilkan efek, pengaruh, atau akibat pada lingkungan para penyimakdan para pembicara (Tarigan, 1990:140). Komunikasi sebagai alat publikasi tidak bisa lepas dari pengaruh ajaran bahas. Di dalam komunikasi yang wajar dapat diasumsi bahwa seorang penutur mengartikulasi tuturan dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada mitra tuturnya. Tujuan terjalinnya komunikasi agar mitra tutur dapat memahami apa yang dikomunikasikan tersebut. Penutur harus berusaha agar tuturanya selalu relevan dengan konteks, jelas dan mudah di pahami, padat dan ringkas, dan selalu pada persoalan, sehingga tidak menghabiskan waktu layan bicaranya. Tuturan harus mudah dupahamidan diingat oleh mitra tutur.
Pada bahasa iklan, para produsen bebas menggunaka bahas sesuka mereka untuk menarik pemirsa atau pembaca agar produk yang diiklankan itu laku. Dengan kejadian itu mungkin saja akan efek bahasa iklan yang digunakan oleh produsen untuk memasarkan dagangannya yang memiliki daya pengaruh berbeda dengan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, bahasa yang terdapat pada iklan dapat mengandung tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Hal ini dapat terjadi karena di dalam mengataan suatu kalimat, seorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan kalimat itu, akan tetapi di dalam pengucapan kalimat juga menindakan sesuatu (Purwo, 1990;19).
                 Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi antara produsen dan konsumen. Tujuan sebuah iklan adalah untuk memperkenalkan dan menawarkan produk. Pada umumnya iklan dirancang sedemikian rupa untuk menarik perhatian konsumen agar membeli atau menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan. Untuk itu, peran bahasa sangatlah penting. Dengan bahasa yang menarik, indah dan sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai akan lebih mudah dimengerti. Bahasa di dalam iklan radio dan televise selama ini yang disiarkan dan sitayangkan tidak bisa lepas dari tindak tutur atau tindak ujar sebagai alatnya. Hal ini berpengaruh terhadap keragaman jenis tuturan yang digunakan.
Kajian dalam pragmatik ini di fokuskan pada wacana iklan berbahasa Indonesia di radio. Iklan berbahsa Indonesia di radio sangat efektif karena mudah dijangkau dan didengar oleh konsumen di mana saja dan kapan saja. Oleh sebab itu bentuk tuturan dalam iklan yang disiarkan di radio harus mampuh menarik perhatian pendengar dan dapat menimbulkan kesan yang tidak mudah hilang dari ingatan pendengar selaku konsumen.
Iklan dalam penelitian ini adalah pesan-pesan penawaran produk barang atau jasa dari produk yang ditunjukan kepada masyarakt atau konsumen melalui media tertentu. Media yang digunakan dalm penelitian ini adalah radio. Khususnya iklan yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia.
Iklan yang disiarkan melalui media menurut segi komursialnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu; (1) iklan pemberitahuan tentang lowongan pekerjaan, penerimaan siswa baru, tender dan (2) iklan perniaga yang menawarkan barang dagangan dan jasa (Arifin, 1992;15). Pada penelitian ini akan dibahas iklan perniaga saja.
                 Bahasa yang digunakan dalam naskah iklan radio dibuat menarik agar menimbulkan daya pengaruh bagi pendengar. Kesan itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji pemakaian bahasa pada iklan radio dengan judul
Tindak Tutur dalam Wacana Iklan Berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102,4 FM Semarang”.
                 Adapun radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang yang dijadikan objek penelitian iklan karena di semarang radio tersebut merupakan radio swasta terbaik, jangkauannya luas, pendengarnya pun cukup banyak sehingga mengundang minat banyak pemasang iklan dalam rangka mengenalkan produk – produknya. Dengan banyaknya pemasangan iklan berarti bagi peneliti mempunyai banyak pilihan iklan – iklan yang akan dijadikan bahan penelitian.
                 Berikut ini contoh kutipan iklan perniaga yang menawarkan barang dagangan yang terdapat di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang yang menggunakan tindak tuturberbahasa Indonesia, memenuhi fungsi persuasive yang menggukan produk atau jasa yang ditawarkan.
 Iklan Fatigon
Konteks                 : (SEORANG KARYAWATI TERLAMBAT DATANG KEKANTOR)
Karyawati            : sorry, kemarin aku sibuk, kerjaan menumpuk, badan capek, pegal-pegal, otot kaku-kaku.”
Karyawan              : minum fatigon pagi dan sore biar kerjaan tuntas, bangun tidur   badan enak.”
Tuturan yang diucapkan oleh seorang karyawan yang dianjurkan kepada karyawati yang terlambat kekantor adalah tuturan. “minum fatigon pagi dan sore.” Seorang karyawan menganjurkan karyawati untuk mengkonsumsi fatigon untuk memulihkan stamina yang hilang dan badan terasa bugar kembali. Ciri konteks yang melekat pada tuturan tersebut disampaikan dengan nada rendah dan tekanan jatuh pada kata minum. Bagi karyawati. Tuturan tersebut memberi efek pada dirinya untuk mengkonsumsi fatigon  seperti yang dianjurkan  kartawan.
Berdasarkan uraian di muka, penelitian terhadap wacana iklan berbahasa Indonesia dilakukan untuk membahas penggunaan tindak tutur dengan mengidentifikasi tindak tutur yang digunaka dalam wacana media Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang.

C.      Perumusan Masalah
                 Dari uraian dalam latar belakang masalah, dapatlah dirumuskan masalah penelitian yaitu : Jenis tindak tutur apa sajakah yang digunakan dalam wacana iklan radio gajah mada 102.4 FM Semarang?

D.      Tujuan Penelitian
                 Penelitian ini betujuan untuk mendeskripsikan jenis tindak tutur yang digunakan dalam wacana iklan radio gaah mada 102.4 FM Semarang!

E.       Manfaat Penelitian
                 Manfaat dari hasil penelitian ini adalah :
1.      Manfaat teoritis
Penelitian ini bermanfaat untuk kepentingan perkembangan ilmu bahasa khususnya ilmu pragmatik.
2.      Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pengguna bahasa, khususnya para penulis iklan radio dalam mengoptimalkan pemakaian bahasa.
F.       Penegasan Istilah
                 Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam memahami judul penelitian ini, maka pada bagian ini ditegaskan istilah – istilah yang dipakai. Penegasan istilah bertujuan agar tidak terjadi kekaburan dan kegandaan arti.
1.      Tindak tutur
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 1058) tindak tutur berarti langkah atau perbuatan, sedangkan tindak tutur dapat diartikan ucapan, kata, perkataan. Dari dua pengertian tersebut tindak tutur dapat diartikan sebagai perbuatan memproduksi tuturan atau ucapan. Oleh Tarigan (1986 : 36) dijelaskan bahwa tindak tutur atau tuturan yang dihasilkan oleh manusia dapat berupa ucapan. Ucapan dianggap sebagai sesuatu bentuk kegiatan atau tindak ujar.

2.      Naskah
Naskah adalah sebuah karangan dan sebagainya yang ditulis tangan atau diketik (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998 : 339).

3.      Iklan
Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik untuk berpikir atau betindak sesuai dengan keinginan sepasang iklan (Pattic, 1993 : 1)
4.      Radio 
Radio adalah siaran suara atau bunyi melalui udara (Moelino, 1995 : 808).

G.    Landasan Teori
1.      Pengertian Bahasa
Kridalaksana (1993 : 21) mengungkapkan batasan dalam kamus linguistik, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Definisi ini serupa dengan yang ada dalam Keei (1995 : 66) yang mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang – wenang dan konvensional dan dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
2.      Fungsi Bahasa
Nababan (1993 : 38) menyatakan bahwa fungsi paling dasar dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi, yaitu alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia. Hilliday (1990 : 17 – 18) menyatakan bahwa fungsi bahasa ada 3 yaitu :
a.        Fungsi ideasional yaitu berkaitan dengan peranan bahasa untuk mengungkapkan pengalaman penutur tentang dunia nyata termasuk dalam kesadarannya sendiri.
b.      Fungsi interpersonal yaitu berkaitan dengan peranan bahasa untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, untuk pengungkapan peran – peran sosial termasuk peran komunikasi yang diciptakan oleh bahasa itu sendiri.
 c. Fungsi tekstural yaitu berkaitan dengan peranan bahasa untuk membentuk bahasa mata rantai kebiasan dan unsur situasi (feature of situation) yang mungkin digunakan oleh para pemakai.
Peristiwa komunikasi terjadi apabila penutur bebicara kepada mitra tutur dengan mengungkapkan bahasa yang saling dimengerti studi pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa. Suyono (1990 : 18) menyatakan tiga konsep dasar yang dikaji yaitu :
a.       Tindak komunikatif sebagai wujud aktualisasi penggunaan bahasa.
   Dengan tindak komunikasi ini ada beberapa tindak bahasa yaitu menyela,   mengundang, menyuruh, mengharapkan, meminta, dan sebagainya.
b.      Peristiwa komunikatif yaitu satu unit perisitwa bahasa yang mempunyai keseragaman, keutuhan, dan kesatuan atas seperangkat komponen komunikatif.
c.       Situasi komunikatif yaitu konteks yang melingkupi terjadinya peristiwa komunikatif atau konteks dalam peristiwa komunikasi terjadi.
3.      Pengertian Pragmatik
Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa yang memiliki berbagi cabang. Cabang – cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Keempat cabang linguistik yang pertama mempelajari struktur bahasa secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana kesatuan bahasa itu digunakan (Wijana, 1996 : 1).
Menurut Leech (1993 : 54) pragmatik adalah ilmu yang mengkaji bahsa untuk menentukan makna – makna ujaran yang sesuai dengan situasinya. Sementara itu, international pragmatic association, pragmatik adalah ilmu yang mengkaji bahasa yang dikaitkan dengan seluk beluk penggunaan bahasa dan fungsinya (Soemarno, 1987 : 1). Pragmatik menurut Parker adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yakni bagaimana kesatuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi (Wijaya, 1996 : 3).
4.      Peristiwa Tutur, Tindak Tutur, dan Bentuk Tuturan
a.       Perisitwa Tutur
Yang dimaksud dengan peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Peristiwa serupa kita dapati juga dalam acara diskusi di ruang kuliah, rapat dinas di kantor, sidang pengadilan, dan sebagainya. Seperti yang dikatakan oleh Hymes (1972), seorang pakar sosiolinguistik terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen yang bila huruf – huruf pertamanya dirangkaikan akan menjadi akronim SPEAKING. Penjelasan delapan komponen itu sebagai berikut :
Setting and scene. Dari sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tuturan berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu atau situasi psikologis pembicaraan.
Participant adalah pihak – pihak yang terlibat dalam tuturan, bisa pembicara dan pendengar, penayapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima pesan.
Ends merujuk pada maksud dan tujuan petuturan. Perisitwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus, perkara, namun pada partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan berbeda.
Act sequence menace pada bentuk ujaran dan isi ujaran ini berkenaan dengan kata – kata yang digunakannya, dan hubungannya antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan.
Key mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan disampaikan dengan senang hati, dengan singkat, dengan sombing, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat.
Instrumentalis mengacu pada norma atau aturan dan berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan sebagainya.
Norm of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi.
Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian seperti narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainya.

b.      Tindak Tutur
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 1058), tindak diartikan sebagai langkah atau perbuatan, sedangkan tutur diartikan ucapan, kata, perkataan (1999 : 1090). Dari dua pengertian tersebut tindak tutur dapat diartikan sebagai perbuatan memproduksi tuturan atau ucapan. Oleh Tarigan dijelaskan (1986 : 36) bahwa tindak tutur atau tuturanyang dihasilkan oleh manusia dapat berupa ucapan. Ucapan dianggap suatu bentuk kegiatan atau suatu tindak ujar. Berkenaan dengan ujaran, jenis tindak tutur yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Austin dan Searle. Austin (dalam Leech terjemahan Oka 1993:316) mengemukakan 3 jenis tindakan yaitu, tindak lokusi atau locutionary act, ilokusi atau  ilocutionary act, dan perlokusi atau  perlocutionary act.
1)      Tindak Tutur Lokusi
Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu (Ruston 1999:36-37). Merupakan tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan sesuatu kata dengan makna di dalam kamus dan makna kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya. Kalimat (1) dan (2) berikut ini merupakan tindak tutur lokusi.
(1) IKIP beralih fungsi menjadi universitas
(2) Bahasa nasional negara Indonesia adalah bahasa Indonesia
Tuturan (1) dan (2) yang diutarakan penutur bertujuan untuk menginformasikan sesuatu tanpa maksud lain. Penutur ingin mengungkapkan isi pikiran atau pengetaghuan yang dimilikinya kepada mitra tutur. Bukan untuk mempengaruhin mitra tutur. Pada tuturan (1) dan (2) tidak menutup kemungkinan adanya daya ilokusi dan perlokusi. Akan tetapi kadar lokusinya lebih dominan. Tuturan (1) menginformasikan keberadaan IKIP yang beralih fungsi dan nama menjadi universitas. Dengan demikian pula pada tuturan (2) informasi yang diutarakan adalah tentang bahasa nasional di negara Indonesia yaitu bahasa Indonesia.
Tindak tutur lokusi termasuk tindak tutur yang relatif paling mudah untuk diidentifikasi karena dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan dalam situasi tutur.

2)      Tindak Tutur Ilokusi
Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang mengandung maksut dan fungsi atau daya ujar. Tindak tutur ilokusi dapat diidentifikasikan sebagai tindak tutur yang berfungsi untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan sesuatu (Wijaya 1996: 18). Beberapa verbal yang menandai tindak tutur ilokusi, yakni, mengucapkan selamat, bertanya, menyarankan, berterima kasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, mendesak, dan sebagainya. Tuturan (3) dan (4) berikut ini merupakan tindak tutur ilokusi.
(3) Di pasar Johar banyak pencopet
(4) Ujian sudah dekat
Tuturan (3) dan (4) diutarakan penutur untuk menginformasikan sesuatu yang disertai dengan maksud tertentu. Tuturan (3) penutur menginformasikan tentang pencopet di pasar Johar dan secara tersirat juga mengandung maksud agar mitra tutur berhati-hati jika pergi berbelanja di pasar Johar. Demikian halnya tuturan (4) selain penutur menginformasikan bahwa ujian sudah dekat, penutur juga mempunyai maksud meminta mitra tutur untuk belanja dan tidak berpergian menghabiskan waktu secara sia-sia.
Pada tuturan (3) dan (4) mengandung daya memperingatkan. Unsur verba yang menandai tuturan (3) dipandang sebagai unsur verba menyarankan. Pada tuturan (4) dipandang sebagai unsur verba menyarankan dan mendesak.
Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasikan karena tindak tutur ilokusi berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa dan kapan atau dimana tindak tutur itu dilakukan. Pada tindak tutur ilokusi perlu disertakan konteks tuturan dalam situasi tutur.

3)      Tindak Tutur Perlokusi
Tindak tutur perlokusi adalah tuturan atau ujaran yang diucapkan oleh penutur yang mempunyai efek atau daya pengaruh terhadap mitra tutur. Tindak tutur yang pengujarnya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur inilah yang merupakan tindak perlokusi (Rustono 1999:38). Untuk memudahkan identifikasi ada beberapa verba yang memadai tindak tutur perlokusi, antara lain, membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut nakuti, menyenangkan, melegakan, mempermalukan, menarik perhatian, dan sebagainya. Tuturan (5)berikut ini merupakan tindak tutur perlokusi.
(5) kemarin saya kehujanan di jalan.
Tuturan (5) diutarakan oleh penutur yang tidak dapat menghadiri undangan pernikahan kepada orang yang mengundangnya, tindak lokusinya adalah memohon maaf, dan perlokusinya (efek) yang diharapkan penutur adalah orang yang mengundangndapat memakluminya.
Tindak tutur perlokusi juga dapat menghasilkan efek atau daya ujaran terhadap mitra tutur hasilnya rasa khawatir, rasa takut, cemas, sedih, senang, putus asa, kecewa, dan sebagainya.

4)      Tindak Tutur Langsung dan Tidak Langsung
Tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu secara langsung dengan kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, memohon, dan sebagainya (Wijana 1996:30). Senada dengan pendapat tersebut Rustono (1999:43-44)menyatakan bahwa kesesuaian antara modus tuturan dan fungsinya secara konvensional inilah yang merupakan tindak tutur langsung. Berikut ini adalah tuturan langsung.
(6) Buanglah sampah itu!
(7) Dimanakah rumahmu?
Tuturan (6) dan (7) merupakan tuturan-tuturan langsung. Pada tuturan (6) diutarakan secara langsung oleh penutur untuk memerintah mitra tutur. Demikian halnya tuturan (7) secara langsung penutur menanyakan letak atau alamat mitra tutur.
Tindak tutur langsung secara formal dikaitkan dengan penggunaan kalimat perintah, berita dan kalimat tanya. Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberitahukan sesuatu (informasi), kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menanyakan perintah, ajakan, perintah, ajakan, permintaan, atau permohonan (Wijana 1996:30).
Tindak tutur tidak langsung adalah tindak tutur yang menyampaikan tidak disampaikan secara langsung (Wijana 1996:30). Maksudnya sebuah tuturan yang makna sebenarnya memerintah, tetapi karena ingin memperhalus pembicaraan maka tuturan perintah tersebut diwujudkan dalam bentuk tuturan berita atau kalimat tanya. Berikut adalah tuturan-tuturan tidak langsung.
            (8) kapur tulisnya habis ya?
(9) sudah siang!
Tuturan (8) merupakan tindak tutur tidak langsung karena penutur mempunyai maksud lain kepada mitra tuturnya, yakni menyuruh mengambilkan kapur tulis karena habis. Demikian halnya pada tuturan (9) merupakan tindak tutur tidak langsung karena untuk menyatakan maksudnya penutur menggunakan perantara lain kepada mitra tutur. Tuturan (9) mempunyai maksud secara tidak langsung agar mitra tutur segera bangun dari tidur karena sudah siang.
c.       Bentuk Tuturan
Bentuk tuturan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu berita (deklaratif), tanya (interogatif), dan perintah imperatif).
1)      Berita (deklaratif)
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain.
2)      Tany (interogatif)
Berdasarkan fungsinya, kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan.
3)      Perintah (imperatif)
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat ini mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari lawan bicara.

5.      Aspek – aspek Situasi Tutur
Penutur dan mitra tutur dalam berkomunikasi hendaknya memperhatikan aspek situasi tutur agar tercipta adanya saling pengertian. Aspek situasi tutur menurut Leech (1996 : 19-21) yaitu (1) penutur dan mitra tutur, (2) konteks tuturan, (3) tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau kegiatan, (4) tujuan tuturan, (5) tuturan sebagai produk tindak verbal.
Aspek-aspek tutur antara lain:

a.       Penutur dan mitra tutur
Penutur adalah orang yang bertutur, mencangkup pembicaraan atau penulis. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur dan mitra tutur dilakukan secara berganti, mencangkup pendengar atau pembicara. Bila tuturan pembicara dikomunikasikan dengan media lisan, maka penulis dikomunikasikan dengan media tulisan.  Aspek – aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.
b.      Konteks tuturan
Konteks tuturan adalah komponen situasi tutur yang mencangkupi semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang bersangkutan. Aspek fisik disebut koteks, sedangkan latar sosial disebut konteks. Konteks merupakan semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur.
c.       Tujuan tuturan
Tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Semua tuturan orang normal memiliki tujuan, oleh karnanya tidak mungkin ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan.
d.      Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau kegiatan
Maksud dari aspek ini adalah tindak tutur merupakan tindakan yang kongkret dari penutur dan mitra tutur disesuaikan dengan waktu dan tempat pengutaranya. Ketika sebuah tuturan dalam peristiwa komunikasi mempunyai tujuan, maka penelitian terhadap tuturan tersebut merupakan usaha untuk merekonstruksi tindakan-tindakan yang menjadi tujuan penutur kepada mitra tuturnya.
e.       Tuturan sebagai produk tindak verbal
Tuturan yang dihasilkan berupa ujaran atau tindakan verbal dengan bentuk-bentuk kalimat yang diujarkan dan tulisan. Selain sebagai tindak ujar atau tindak verbal itu sendiri. Selain sebagai tindak ujar atau tindak verbal itu sendiri, dalam pragmatic kata tuturan dapat pula sebagai produk tindak verbal.

6.        Wacana
Menurut Rustono (1999:53) Wacana adalah satuan kebahasaan yang unsurnya terlengkap yang tersusun dari kalimat atau kalimat-kalimat, baik lisan maupun tertulis, yang berbentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi fonestisme.
7.         Iklan
a.       Pengertian Iklan
Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa periklanan meliputi segenap seperangkat yang adapat memuat atau membawa pesan – pesan penjualan kepada para calon pembeli (Jefkin, 1995 : 84)
b.      Jenis Iklan
Berdasarkan tujuan iklan dibedakan menjadi beberapa jenis yakni iklan perdagangan, keluarga, dan layanan masyarakat. Iklan perdagangan bertujuan untuk mengenalkan masalah dan menunjukkan jalan keluar sesuai dengan barang dagangan yang ditawarkan, meyakinkan kualitas suatu jenis barang atau jasa, dan mengajak pihak lain membeli atau menggunakan barang dan jasa yang ditawarkan. Adapun iklan keluarga dimaksudkan untuk menyampaikan berita keluarga kepada masyarakat luas, seperti berita duka cita, kelahiran, dan pernikahan. Sedangkan, iklan layanan sosial berfungsi untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas dengan maksud misalnya menggugah semangat kebangsaan, kesadaraan untuk menjaga kelestarian alam, menjaga kesehatan, dan untuk berperan serta dalam mengikuti program – program pemerintah (Nurhadi, 2003 : 83).
8.      Radio 
Radio adalah siaran suara atau bunyi melalui udara (Moelino, 1995 : 808).
H.    Metode Penelitian
1.      Pendekatan penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang berkaitan dengan data yang tidak berupa angka-angka tetapi berupa kualitas bentuk-benuk variabel yang berwujud tuturan sebagai data yang dihasilkan berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat-sifat individu, keadaan, gejala, dari kelompok tertentu yang diamati (Moleong, 1994;6). Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena data penelitian berupa bentuk-bentuk verbal bahasa, yaitu berupa tuturan dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang.
Selain pendekatan kualitatif juga digunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah suatu pendekatan yang berupa mengungkapkan sesuatu secara apa adanya (Sudaryanto, 1992;62). Pada dasarnya fakta yang ada atau fenomena yang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya, sehingga yang dihasilkan berupa pribahasa yang biasa dilakukan sifatnya seperti potret, yaitupaparan seperti metode deskriptif yaitu dalam pemberian tidak mempertimbangkan benar salahnya penggunaan bahasa oleh penutur-penuturnya. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah paparan tindak tutur yang digunakan secara apa adanya.
Penggunaan jenis tindak tutur dalam penelitian berdasarkan pada jenis tindak tutur yang dikemukakan Austin Searle. Austin(dalam Leech terjemahan Oka,1993;316 ) mengkategori jenis tindak tutur menjadi tiga yaitu jenis tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
2.      Data dan Sumber Data
           Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang dinyatakan dalam sejumlah naskah iklan di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang yang diduga mengandung tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Subroto (1992 : 34), sumber data adalah semua informasi atau bahan yang diserahkan oleh alam (dalam arti luas) yang harus dicari atau dikumpulkan dan dipilah oleh peneliti. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sejumlah naskah iklan yang disiarkan melalui media radio. Data dalam penelitian ini, penelitian ini mengambil lima belas naskah iklan yang disiarkan oleh radio gajah mada 102.4 FM yang diduga memiliki aspek tindak tutur dan bentuk tuturan.
3.      Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada tanggal15 Maret sampai 20 April 2010. Rentang pengambilan iklan dibatasi oleh peneliti agar tidak terjadi kekacauan, sebab iklan dapat berubah setiap saat. (1) teknik simak, (2) teknik simak, (3) teknik catat. Berikut ini penjelasan ketiga teknis tersebut.

a.       Teknik Simak
Teknik simak ini digunakan untuk menyimak percakapan yang digunakan dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang. Kegiatan menyimak ini berlangsung saat iklan disiarkan dari tanggal 15 Maret sampai 20 April 2010.
b.      Teknik Rekam
Setelah melakukan penyimakan dan ditentukan objk yang diamati, peneliti melakukan perekaman terhadap iklan berbahasa Indonesia di radio yaitu merekam penggunaan bahasa.
c.       Teknik Catat
Setelah melakukan perekaman kemudian dilakukan pencatatan (transkipsi), sehingga data yang semula berwujud lisan menjadi data yang berwujud tertulis. Hasil pencatatan data penelitian ini disimpan dalam suatu alat yang dinamakan kartu data. Data dikelompokan berdasarkan jenis tindak tutur dan kategori cara penyampaianya.
Adapun bentuk dan isi kartu data sebagai berikut:
(1)   No. data
WI 1
(2)   Nama Iklan
Promag
(3)   Sumber
R. GM.25 Maret 2010
(4) Konteks                       : (SEORANG LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN  MENGINFORMASIKAN SESUATU)
Laki-laki                : “ sibuk jangan lupa makan”
“ makan teratur itu perlu, begitu merasa sakit mag , minumlah promag setiap sebelum atau sesudah makan dan sebelum tidur. Tugas jadi tak terganggu kalau mual, perih, kembung promag obatnya.”

(5) Jenis tindak tutur Ilokusi
(6) cara penyampaian iklan
Iklan dengan mengajak

Keterangan:
1.      Kolom pertama berisi nomor data yang akan dianalisis
2.      Kolom kedua dicantumkan nama iklan
3.      Kolom ketiga dicantumkan sumber, data, tanggal, bulan, tahun
4.      Kolom keempat berisi data yang berupa iklan
5.      Kolom kelima menentukan jenis tindak tutur yang ditemui
6.      Kolom keenam menentukan kategori cara penyampaian iklan

4.      Teknik analisis data
Dalam menganalisi data, peneliti menggunakan analisis prakmatik yaitu berdasarkan pada sudut pandang prakmatik (Rustono,1999:18) analisis ini berupaya  menentukan maksud penutur baik diekspresikan secara tersurat maupun yang diungkapan secara tersirat dibalik tuturan.
Adapun metode yang digunakan yaitu metode identifikasi. Metode identifikasi adalah metode yangdilakukan dengan cara menetapkan sesuatu tidak tutur berdasarkan jenis tindak tuturnya, aspek-aspek situasi tuturnya dan cara penyampaian iklan .
Kegiatan analisis data tersebut dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :
a.  Menentukan jenis tindak tutur
b. Mengidentifikai data berdasarkan katagori cara penyampaian iklan
c. menarik kesimpulan
5.      Teknik pemaparan hasil analisis
pemaparan hasil analisis data merupakan langkah selanjutnya setelah analisis data selesai, untuk memaparkan hasil analisis data diperlukan suatu teknik pemaparan data. Ada dua teknik pemaparan data yaitu teknik yang bersifat formal dan informal (Sudaryanto, 1993:44)teknik pemaparan hasil analisis secara informal dilakukan dengan cara perumusan dengan kata-kata biasa walaupun dengan terminologi yang tidak teknik sifatnya, sedangkan teknik formal adalah perumusan dengan tanda-tanda dan lambing-lambang.
Teknik pemaparan hasil analisis data yang digunakan untukmemaparkan jenis tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi yang terdapat dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di radio Gajah Mada.
Berdasarkan tuturan tokoh iklan dalam wacana di radio, cara penyampaian iklan dikelompokan berdasarkan kaidah retorika yang bersangkutan.

I.       Sistematika Penulisan Skirpsi
Sistematika dalam proposal ini adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegas istilah, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan teori yang berisikan tentang pengertian bahasa, fungsi bahasa, pragmatik, peristiwa tutur, tindak tutur, dan bentuk tutur, aspek situsi tutur,
Bab III Metode penelitian yang berisikan pendekatan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik penerapan hasil analisis.
Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan tentang tindak tutur dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang.
Bab V Penutup yang berisi mengenai simpulan dan saran-saran.




BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan di masyarakat manusia selalu melakukan interaksi atau hubungan dengan sesamanya adalah bahasa. Bahasa dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti keduanya berhubungan erat. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling penting bagi manusia karena dengan bahasa manusia dapat mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran atau gagasannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik, manusia harus menguasai keterampilan berbahasa. Tarigan (1986 : 2) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa meliputi empat macam, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan bahasa mempunyai hubungan yang erat dan konsep berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran, semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula pikirannya.
Kridalaksana (1984 : 28) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang arbiter yangdigunakan untuk bekerja sama, berinteraksi, atau


1
mengidentifikasikan diri. Meningkatkan bahasa sebagai lambang makna dalam bahasa lisan lambang itu diwujudkan dalam bentuk tindak ujar dan dalam bahasa tulis wujud simbol tulisan dan keduanya memiliki tempat masing – masing. Baik bahasa lisan maupun tulisan digunakan manusia untuk berkomunikasi. Komunikasi secara langsung, misalnya ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Sedang yang melalui media, contoh iklan di televisi, siaran di radio, penulisan opini atau artikel di majalah, surat kabar, dan lain – lain.
Bahasa lisan dan tertulis dapat diungkapkan atau diwujudkan dengan menggunakan berbagai sarana, sarana yang digunakan untuk merealisasikan tuturan tersebut dapat diungkapkan melalui media massa, yakni melalui media elektronik maupun media cetak., media massa sebagai sarana komunikasi tidak hanya berarti pemberitahuan, namun berarti pula pengumuman, penerangan, penjelasan, penyuluhan, perintah, intruksi, nasehat, ajakan, rayuan, dan sebagainya (Effendi, 1986:61).
Media elektronik adalah media massa yang digunakan dalam komunikasi secara lisan. Media elektronik dapat berupa radio, televisi, telephon dan sebagainya. Media elektronik seperti radio dan televisi memiliki sifat begitu terdengar dan terlihat hilang tidak membekas. Oleh sebab itu, alat komunikasi bahasa tutur yang digunakan harus membekas pada ingatan, menarik, dan tidak mudah hilang dari pendengar dan penyimak.
Peran media massa tidak lepas dari komunikasi, komunikasi mempunyai fungsi yang bersifat purposif, mengandung maksud dan tujuan tertentu, dan dirancang untuk menghasilkan efek, pengaruh, atau akibat pada lingkungan para penyimakdan para pembicara (Tarigan, 1990:140). Komunikasi sebagai alat publikasi tidak bisa lepas dari pengaruh ajaran bahas. Di dalam komunikasi yang wajar dapat diasumsi bahwa seorang penutur mengartikulasi tuturan dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada mitra tuturnya. Tujuan terjalinnya komunikasi agar mitra tutur dapat memahami apa yang dikomunikasikan tersebut. Penutur harus berusaha agar tuturanya selalu relevan dengan konteks, jelas dan mudah di pahami, padat dan ringkas, dan selalu pada persoalan, sehingga tidak menghabiskan waktu layan bicaranya. Tuturan harus mudah dupahamidan diingat oleh mitra tutur.
Pada bahasa iklan, para produsen bebas menggunaka bahas sesuka mereka untuk menarik pemirsa atau pembaca agar produk yang diiklankan itu laku. Dengan kejadian itu mungkin saja akan efek bahasa iklan yang digunakan oleh produsen untuk memasarkan dagangannya yang memiliki daya pengaruh berbeda dengan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, bahasa yang terdapat pada iklan dapat mengandung tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Hal ini dapat terjadi karena di dalam mengataan suatu kalimat, seorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan kalimat itu, akan tetapi di dalam pengucapan kalimat juga menindakan sesuatu (Purwo, 1990;19).
Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi antara produsen dan konsumen. Tujuan sebuah iklan adalah untuk memperkenalkan dan menawarkan produk. Pada umumnya iklan dirancang sedemikian rupa untuk menarik perhatian konsumen agar membeli atau menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan. Untuk itu, peran bahasa sangatlah penting. Dengan bahasa yang menarik, indah dan sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai akan lebih mudah dimengerti. Bahasa di dalam iklan radio dan televise selama ini yang disiarkan dan sitayangkan tidak bisa lepas dari tindak tutur atau tindak ujar sebagai alatnya. Hal ini berpengaruh terhadap keragaman jenis tuturan yang digunakan.

Kajian dalam pragmatik ini di fokuskan pada wacana iklan berbahasa Indonesia di radio. Iklan berbahsa Indonesia di radio sangat efektif karena mudah dijangkau dan didengar oleh konsumen di mana saja dan kapan saja. Oleh sebab itu bentuk tuturan dalam iklan yang disiarkan di radio harus mampuh menarik perhatian pendengar dan dapat menimbulkan kesan yang tidak mudah hilang dari ingatan pendengar selaku konsumen.
Iklan dalam penelitian ini adalah pesan-pesan penawaran produk barang atau jasa dari produk yang ditunjukan kepada masyarakt atau konsumen melalui media tertentu. Media yang digunakan dalm penelitian ini adalah radio. Khususnya iklan yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia.
Iklan yang disiarkan melalui media menurut segi komursialnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu; (1) iklan pemberitahuan tentang lowongan pekerjaan, penerimaan siswa baru, tender dan (2) iklan perniaga yang menawarkan barang dagangan dan jasa (Arifin, 1992;15). Pada penelitian ini akan dibahas iklan perniaga saja.
Bahasa yang digunakan dalam naskah iklan radio dibuat menarik agar menimbulkan daya pengaruh bagi pendengar. Kesan itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji pemakaian bahasa pada iklan radio dengan judul
Tindak Tutur dalam Wacana Iklan Berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102,4 FM Semarang”.
Adapun radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang yang dijadikan objek penelitian iklan karena di semarang radio tersebut merupakan radio swasta terbaik, jangkauannya luas, pendengarnya pun cukup banyak sehingga mengundang minat banyak pemasang iklan dalam rangka mengenalkan produk – produknya. Dengan banyaknya pemasangan iklan berarti bagi peneliti mempunyai banyak pilihan iklan – iklan yang akan dijadikan bahan penelitian.
Berikut ini contoh kutipan iklan perniaga yang menawarkan barang dagangan yang terdapat di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang yang menggunakan tindak tuturberbahasa Indonesia, memenuhi fungsi persuasive yang menggukan produk atau jasa yang ditawarkan.
 Iklan Fatigon
Konteks               : (SEORANG KARYAWATI TERLAMBAT DATANG KEKANTOR)
Karyawati            : sorry, kemarin aku sibuk, kerjaan menumpuk, badan capek, pegal-pegal, otot kaku-kaku.”
Karyawan            : minum fatigon pagi dan sore biar kerjaan tuntas, bangun tidur   badan enak.”
Tuturan yang diucapkan oleh seorang karyawan yang dianjurkan kepada karyawati yang terlambat kekantor adalah tuturan. “minum fatigon pagi dan sore.” Seorang karyawan menganjurkan karyawati untuk mengkonsumsi fatigon untuk memulihkan stamina yang hilang dan badan terasa bugar kembali. Ciri konteks yang melekat pada tuturan tersebut disampaikan dengan nada rendah dan tekanan jatuh pada kata minum. Bagi karyawati. Tuturan tersebut memberi efek pada dirinya untuk mengkonsumsi fatigon  seperti yang dianjurkan  kartawan.
Berdasarkan uraian di muka, penelitian terhadap wacana iklan berbahasa Indonesia dilakukan untuk membahas penggunaan tindak tutur dengan mengidentifikasi tindak tutur yang digunaka dalam wacana media Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang.

B.        Perumusan Masalah
Dari uraian dalam latar belakang masalah, dapatlah dirumuskan masalah penelitian yaitu : Jenis tindak tutur apa sajakah yang digunakan dalam wacana iklan radio gajah mada 102.4 FM Semarang?

C.       Tujuan Penelitian
Penelitian ini betujuan untuk mendeskripsikan jenis tindak tutur yang digunakan dalam wacana iklan radio gaah mada 102.4 FM Semarang!

D.       Manfaat Penelitian
Manfaat dari hasil penelitian ini adalah :
1.      Manfaat teoritis
Penelitian ini bermanfaat untuk kepentingan perkembangan ilmu bahasa khususnya ilmu pragmatik.
2.      Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pengguna bahasa, khususnya para penulis iklan radio dalam mengoptimalkan pemakaian bahasa.
E.        Penegasan Istilah
Agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam memahami judul penelitian ini, maka pada bagian ini ditegaskan istilah – istilah yang dipakai. Penegasan istilah bertujuan agar tidak terjadi kekaburan dan kegandaan arti.
1.      Tindak tutur
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 1058) tindak tutur berarti langkah atau perbuatan, sedangkan tindak tutur dapat diartikan ucapan, kata, perkataan. Dari dua pengertian tersebut tindak tutur dapat diartikan sebagai perbuatan memproduksi tuturan atau ucapan. Oleh Tarigan (1986 : 36) dijelaskan bahwa tindak tutur atau tuturan yang dihasilkan oleh manusia dapat berupa ucapan. Ucapan dianggap sebagai sesuatu bentuk kegiatan atau tindak ujar.

2.      Wacana
Menurut Rustono (1999:53) Wacana adalah satuan kebahasaan yang unsurnya terlengkap yang tersusun dari kalimat atau kalimat-kalimat, baik lisan maupun tertulis, yang berbentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi fonestisme.

3.      Iklan
Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik untuk berpikir atau betindak sesuai dengan keinginan sepasang iklan (Pattic, 1993 : 1)
4.      Radio 
Radio adalah siaran suara atau bunyi melalui udara (Moelino, 1995 : 808).

F.        Sistematika Penulisan Skirpsi
Sistematika dalam proposal ini adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegas istilah, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan teori yang berisikan tentang pengertian bahasa, fungsi bahasa, pragmatik, peristiwa tutur, tindak tutur, dan bentuk tutur, aspek situsi tutur,
Bab III Metode penelitian yang berisikan pendekatan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik penerapan hasil analisis.
Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan tentang tindak tutur dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang.
Bab V Penutup yang berisi mengenai simpulan dan saran.


BAB II
Landasan Teori

A.    Pengertian Bahasa
Kridalaksana (1993 : 21) mengungkapkan batasan dalam kamus linguistik, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Definisi ini serupa dengan yang ada dalam Keei (1995 : 66) yang mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang – wenang dan konvensional dan dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
B.     Fungsi Bahasa
Nababan (1993 : 38) menyatakan bahwa fungsi paling dasar dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi, yaitu alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia. Hilliday (1990 : 17 – 18) menyatakan bahwa fungsi bahasa ada 3 yaitu :
1.       Fungsi ideasional yaitu berkaitan dengan peranan bahasa untuk mengungkapkan pengalaman penutur tentang dunia nyata termasuk dalam kesadarannya sendiri.
2.      Fungsi interpersonal yaitu berkaitan dengan peranan bahasa untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, untuk pengungkapan peran – peran sosial termasuk peran komunikasi yang diciptakan oleh bahasa itu sendiri.
3.        Fungsi tekstural yaitu berkaitan dengan peranan bahasa untuk membentuk bahasa mata rantai kebiasan dan unsur situasi (feature of situation) yang mungkin digunakan oleh para pemakai.
Peristiwa komunikasi terjadi apabila penutur bebicara kepada mitra tutur dengan mengungkapkan bahasa yang saling dimengerti studi pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa. Suyono (1990 : 18) menyatakan tiga konsep dasar yang dikaji yaitu :
a.       Tindak komunikatif sebagai wujud aktualisasi penggunaan bahasa.
   Dengan tindak komunikasi ini ada beberapa tindak bahasa yaitu menyela,   mengundang, menyuruh, mengharapkan, meminta, dan sebagainya.
b.      Peristiwa komunikatif yaitu satu unit perisitwa bahasa yang mempunyai keseragaman, keutuhan, dan kesatuan atas seperangkat komponen komunikatif.
c.       Situasi komunikatif yaitu konteks yang melingkupi terjadinya peristiwa komunikatif atau konteks dalam peristiwa komunikasi terjadi.
C.    Pengertian Pragmatik
Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa yang memiliki berbagi cabang. Cabang – cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Keempat cabang linguistik yang pertama mempelajari struktur bahasa secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana kesatuan bahasa itu digunakan (Wijana, 1996 : 1).
Menurut Leech (1993 : 54) pragmatik adalah ilmu yang mengkaji bahsa untuk menentukan makna – makna ujaran yang sesuai dengan situasinya. Sementara itu, international pragmatic association, pragmatik adalah ilmu yang mengkaji bahasa yang dikaitkan dengan seluk beluk penggunaan bahasa dan fungsinya (Soemarno, 1987 : 1). Pragmatik menurut Parker adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal yakni bagaimana kesatuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi (Wijaya, 1996 : 3).
D.    Peristiwa Tutur, Tindak Tutur, dan Bentuk Tuturan
1.      Perisitwa Tutur
Yang dimaksud dengan peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Peristiwa serupa kita dapati juga dalam acara diskusi di ruang kuliah, rapat dinas di kantor, sidang pengadilan, dan sebagainya. Seperti yang dikatakan oleh Hymes (1972), seorang pakar sosiolinguistik terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen yang bila huruf – huruf pertamanya dirangkaikan akan menjadi akronim SPEAKING. Penjelasan delapan komponen itu sebagai berikut :
Setting and scene. Dari sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tuturan berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu atau situasi psikologis pembicaraan.
Participant adalah pihak – pihak yang terlibat dalam tuturan, bisa pembicara dan pendengar, penayapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima pesan.
Ends merujuk pada maksud dan tujuan petuturan. Perisitwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus, perkara, namun pada partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan berbeda.
Act sequence menace pada bentuk ujaran dan isi ujaran ini berkenaan dengan kata – kata yang digunakannya, dan hubungannya antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan.
Key mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan disampaikan dengan senang hati, dengan singkat, dengan sombing, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat.
Instrumentalis mengacu pada norma atau aturan dan berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan sebagainya.
Norm of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi.
Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian seperti narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainya.

2.      Tindak Tutur
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 1058), tindak diartikan sebagai langkah atau perbuatan, sedangkan tutur diartikan ucapan, kata, perkataan (1999 : 1090). Dari dua pengertian tersebut tindak tutur dapat diartikan sebagai perbuatan memproduksi tuturan atau ucapan. Oleh Tarigan dijelaskan (1986 : 36) bahwa tindak tutur atau tuturanyang dihasilkan oleh manusia dapat berupa ucapan. Ucapan dianggap suatu bentuk kegiatan atau suatu tindak ujar. Berkenaan dengan ujaran, jenis tindak tutur yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Austin dan Searle. Austin (dalam Leech terjemahan Oka 1993:316) mengemukakan 3 jenis tindakan yaitu, tindak lokusi atau locutionary act, ilokusi atau  ilocutionary act, dan perlokusi atau  perlocutionary act.
a.       Tindak Tutur Lokusi
Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu (Ruston 1999:36-37). Merupakan tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan sesuatu kata dengan makna di dalam kamus dan makna kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya. Kalimat (1) dan (2) berikut ini merupakan tindak tutur lokusi.
(1) IKIP beralih fungsi menjadi universitas
(2) Bahasa nasional negara Indonesia adalah bahasa Indonesia
Tuturan (1) dan (2) yang diutarakan penutur bertujuan untuk menginformasikan sesuatu tanpa maksud lain. Penutur ingin mengungkapkan isi pikiran atau pengetaghuan yang dimilikinya kepada mitra tutur. Bukan untuk mempengaruhin mitra tutur. Pada tuturan (1) dan (2) tidak menutup kemungkinan adanya daya ilokusi dan perlokusi. Akan tetapi kadar lokusinya lebih dominan. Tuturan (1) menginformasikan keberadaan IKIP yang beralih fungsi dan nama menjadi universitas. Dengan demikian pula pada tuturan (2) informasi yang diutarakan adalah tentang bahasa nasional di negara Indonesia yaitu bahasa Indonesia.
Tindak tutur lokusi termasuk tindak tutur yang relatif paling mudah untuk diidentifikasi karena dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan dalam situasi tutur.

b.      Tindak Tutur Ilokusi
Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang mengandung maksut dan fungsi atau daya ujar. Tindak tutur ilokusi dapat diidentifikasikan sebagai tindak tutur yang berfungsi untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan sesuatu (Wijaya 1996: 18). Beberapa verbal yang menandai tindak tutur ilokusi, yakni, mengucapkan selamat, bertanya, menyarankan, berterima kasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, mendesak, dan sebagainya. Tuturan (3) dan (4) berikut ini merupakan tindak tutur ilokusi.
(3) Di pasar Johar banyak pencopet
(4) Ujian sudah dekat
Tuturan (3) dan (4) diutarakan penutur untuk menginformasikan sesuatu yang disertai dengan maksud tertentu. Tuturan (3) penutur menginformasikan tentang pencopet di pasar Johar dan secara tersirat juga mengandung maksud agar mitra tutur berhati-hati jika pergi berbelanja di pasar Johar. Demikian halnya tuturan (4) selain penutur menginformasikan bahwa ujian sudah dekat, penutur juga mempunyai maksud meminta mitra tutur untuk belanja dan tidak berpergian menghabiskan waktu secara sia-sia.
Pada tuturan (3) dan (4) mengandung daya memperingatkan. Unsur verba yang menandai tuturan (3) dipandang sebagai unsur verba menyarankan. Pada tuturan (4) dipandang sebagai unsur verba menyarankan dan mendesak.
Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasikan karena tindak tutur ilokusi berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa dan kapan atau dimana tindak tutur itu dilakukan. Pada tindak tutur ilokusi perlu disertakan konteks tuturan dalam situasi tutur.

c.       Tindak Tutur Perlokusi
Tindak tutur perlokusi adalah tuturan atau ujaran yang diucapkan oleh penutur yang mempunyai efek atau daya pengaruh terhadap mitra tutur. Tindak tutur yang pengujarnya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur inilah yang merupakan tindak perlokusi (Rustono 1999:38). Untuk memudahkan identifikasi ada beberapa verba yang memadai tindak tutur perlokusi, antara lain, membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut nakuti, menyenangkan, melegakan, mempermalukan, menarik perhatian, dan sebagainya. Tuturan (5)berikut ini merupakan tindak tutur perlokusi.
(5) kemarin saya kehujanan di jalan.
Tuturan (5) diutarakan oleh penutur yang tidak dapat menghadiri undangan pernikahan kepada orang yang mengundangnya, tindak lokusinya adalah memohon maaf, dan perlokusinya (efek) yang diharapkan penutur adalah orang yang mengundangndapat memakluminya.
Tindak tutur perlokusi juga dapat menghasilkan efek atau daya ujaran terhadap mitra tutur hasilnya rasa khawatir, rasa takut, cemas, sedih, senang, putus asa, kecewa, dan sebagainya.

d.      Tindak Tutur Langsung dan Tidak Langsung
Tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu secara langsung dengan kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, memohon, dan sebagainya (Wijana 1996:30). Senada dengan pendapat tersebut Rustono (1999:43-44)menyatakan bahwa kesesuaian antara modus tuturan dan fungsinya secara konvensional inilah yang merupakan tindak tutur langsung. Berikut ini adalah tuturan langsung.
(6) Buanglah sampah itu!
(7) Dimanakah rumahmu?
Tuturan (6) dan (7) merupakan tuturan-tuturan langsung. Pada tuturan (6) diutarakan secara langsung oleh penutur untuk memerintah mitra tutur. Demikian halnya tuturan (7) secara langsung penutur menanyakan letak atau alamat mitra tutur.
Tindak tutur langsung secara formal dikaitkan dengan penggunaan kalimat perintah, berita dan kalimat tanya. Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberitahukan sesuatu (informasi), kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menanyakan perintah, ajakan, perintah, ajakan, permintaan, atau permohonan (Wijana 1996:30).
Tindak tutur tidak langsung adalah tindak tutur yang menyampaikan tidak disampaikan secara langsung (Wijana 1996:30). Maksudnya sebuah tuturan yang makna sebenarnya memerintah, tetapi karena ingin memperhalus pembicaraan maka tuturan perintah tersebut diwujudkan dalam bentuk tuturan berita atau kalimat tanya. Berikut adalah tuturan-tuturan tidak langsung.
(8) kapur tulisnya habis ya?
(9) sudah siang!
Tuturan (8) merupakan tindak tutur tidak langsung karena penutur mempunyai maksud lain kepada mitra tuturnya, yakni menyuruh mengambilkan kapur tulis karena habis. Demikian halnya pada tuturan (9) merupakan tindak tutur tidak langsung karena untuk menyatakan maksudnya penutur menggunakan perantara lain kepada mitra tutur. Tuturan (9) mempunyai maksud secara tidak langsung agar mitra tutur segera bangun dari tidur karena sudah siang.

3.      Bentuk Tuturan
Bentuk tuturan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu berita (deklaratif), tanya (interogatif), dan perintah imperatif).
a.    Berita (deklaratif)
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain.
b.   Tanya (interogatif)
Berdasarkan fungsinya, kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan.
c.    Perintah (imperatif)
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat ini mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari lawan bicara.

E.     Aspek – Aspek Situasi Tutur
Penutur dan mitra tutur dalam berkomunikasi hendaknya memperhatikan aspek situasi tutur agar tercipta adanya saling pengertian. Aspek situasi tutur menurut Leech (1996 : 19-21) yaitu (1) penutur dan mitra tutur, (2) konteks tuturan, (3) tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau kegiatan, (4) tujuan tuturan, (5) tuturan sebagai produk tindak verbal.


Aspek-aspek tutur antara lain:
1.      Penutur dan Mitra Tutur
Penutur adalah orang yang bertutur, mencangkup pembicaraan atau penulis. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur dan mitra tutur dilakukan secara berganti, mencangkup pendengar atau pembicara. Bila tuturan pembicara dikomunikasikan dengan media lisan, maka penulis dikomunikasikan dengan media tulisan.  Aspek – aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.
2.         Konteks Tuturan
Konteks tuturan adalah komponen situasi tutur yang mencangkupi semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang bersangkutan. Aspek fisik disebut koteks, sedangkan latar sosial disebut konteks. Konteks merupakan semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur.
3.         Tujuan Tuturan
Tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Semua tuturan orang normal memiliki tujuan, oleh karnanya tidak mungkin ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan.

4.         Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau kegiatan
Maksud dari aspek ini adalah tindak tutur merupakan tindakan yang kongkret dari penutur dan mitra tutur disesuaikan dengan waktu dan tempat pengutaranya. Ketika sebuah tuturan dalam peristiwa komunikasi mempunyai tujuan, maka penelitian terhadap tuturan tersebut merupakan usaha untuk merekonstruksi tindakan-tindakan yang menjadi tujuan penutur kepada mitra tuturnya.
5.         Tuturan sebagai produk tindak verbal
Tuturan yang dihasilkan berupa ujaran atau tindakan verbal dengan bentuk-bentuk kalimat yang diujarkan dan tulisan. Selain sebagai tindak ujar atau tindak verbal itu sendiri. Selain sebagai tindak ujar atau tindak verbal itu sendiri, dalam pragmatic kata tuturan dapat pula sebagai produk tindak verbal.

F.     Wacana
Menurut Rustono (1999:53) Wacana adalah satuan kebahasaan yang unsurnya terlengkap yang tersusun dari kalimat atau kalimat-kalimat, baik lisan maupun tertulis, yang berbentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi fonestisme.




G.     Iklan
1.   Pengertian Iklan
Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa periklanan meliputi segenap seperangkat yang adapat memuat atau membawa pesan – pesan penjualan kepada para calon pembeli (Jefkin, 1995 : 84)
2.   Jenis Iklan
Berdasarkan tujuan iklan dibedakan menjadi beberapa jenis yakni iklan perdagangan, keluarga, dan layanan masyarakat. Iklan perdagangan bertujuan untuk mengenalkan masalah dan menunjukkan jalan keluar sesuai dengan barang dagangan yang ditawarkan, meyakinkan kualitas suatu jenis barang atau jasa, dan mengajak pihak lain membeli atau menggunakan barang dan jasa yang ditawarkan. Adapun iklan keluarga dimaksudkan untuk menyampaikan berita keluarga kepada masyarakat luas, seperti berita duka cita, kelahiran, dan pernikahan. Sedangkan, iklan layanan sosial berfungsi untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas dengan maksud misalnya menggugah semangat kebangsaan, kesadaraan untuk menjaga kelestarian alam, menjaga kesehatan, dan untuk berperan serta dalam mengikuti program – program pemerintah (Nurhadi, 2003 : 83).
3.      Radio 
Radio adalah siaran suara atau bunyi melalui udara (Moelino, 1995 : 808).


BAB III
Metode Penelitian

A.    Pendekatan penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang berkaitan dengan data yang tidak berupa angka-angka tetapi berupa kualitas bentuk-benuk variabel yang berwujud tuturan sebagai data yang dihasilkan berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat-sifat individu, keadaan, gejala, dari kelompok tertentu yang diamati (Moleong, 1994;6). Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena data penelitian berupa bentuk-bentuk verbal bahasa, yaitu berupa tuturan dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang.
Selain pendekatan kualitatif juga digunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah suatu pendekatan yang berupa mengungkapkan sesuatu secara apa adanya (Sudaryanto, 1992;62). Pada dasarnya fakta yang ada atau fenomena yang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya, sehingga yang dihasilkan berupa pribahasa yang biasa dilakukan sifatnya seperti potret, yaitupaparan seperti metode deskriptif yaitu dalam pemberian tidak mempertimbangkan benar salahnya penggunaan bahasa oleh penutur-penuturnya. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah paparan tindak tutur yang digunakan secara apa adanya.
Penggunaan jenis tindak tutur dalam penelitian berdasarkan pada jenis tindak tutur yang dikemukakan Austin Searle. Austin(dalam Leech terjemahan Oka,1993;316 ) mengkategori jenis tindak tutur menjadi tiga yaitu jenis tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
B.     Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang dinyatakan dalam sejumlah naskah iklan di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang yang diduga mengandung tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Subroto (1992 : 34), sumber data adalah semua informasi atau bahan yang diserahkan oleh alam (dalam arti luas) yang harus dicari atau dikumpulkan dan dipilah oleh peneliti. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sejumlah naskah iklan yang disiarkan melalui media radio. Data dalam penelitian ini, penelitian ini mengambil lima belas naskah iklan yang disiarkan oleh radio gajah mada 102.4 FM yang diduga memiliki aspek tindak tutur dan bentuk tuturan.

C.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada tanggal15 Maret sampai 20 April 2010. Rentang pengambilan iklan dibatasi oleh peneliti agar tidak terjadi kekacauan, sebab iklan dapat berubah setiap saat. (1) teknik simak, (2) teknik simak, (3) teknik catat. Berikut ini penjelasan ketiga teknis tersebut.
1.               Teknik Simak
Teknik simak ini digunakan untuk menyimak percakapan yang digunakan dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di Radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang. Kegiatan menyimak ini berlangsung saat iklan disiarkan dari tanggal 15 Maret sampai 20 April 2010.
2.               Teknik Rekam
Setelah melakukan penyimakan dan ditentukan objk yang diamati, peneliti melakukan perekaman terhadap iklan berbahasa Indonesia di radio yaitu merekam penggunaan bahasa.
3.               Teknik Catat
Setelah melakukan perekaman kemudian dilakukan pencatatan (transkipsi), sehingga data yang semula berwujud lisan menjadi data yang berwujud tertulis. Hasil pencatatan data penelitian ini disimpan dalam suatu alat yang dinamakan kartu data. Data dikelompokan berdasarkan jenis tindak tutur dan kategori cara penyampaianya.
Adapun bentuk dan isi kartu data sebagai berikut:
(1)   No. Data
WI 1
(2)   Nama Iklan
Promag
(3)   Sumber
R. GM.25 Maret 2010
(4) Konteks     : (SEORANG LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN  MENGINFORMASIKAN SESUATU)
Laki-laki    : “ sibuk jangan lupa makan”
“ makan teratur itu perlu, begitu merasa sakit mag , minumlah promag setiap sebelum atau sesudah makan dan sebelum tidur. Tugas jadi tak terganggu kalau mual, perih, kembung promag obatnya.”

(5) Jenis tindak tutur Ilokusi

Keterangan:
1        Kolom pertama berisi nomor data yang akan dianalisis
2        Kolom kedua dicantumkan nama iklan
3        Kolom ketiga dicantumkan sumber, data, tanggal, bulan, tahun
4        Kolom keempat berisi data yang berupa iklan
5        Kolom kelima menentukan jenis tindak tutur yang ditemui

D.    Teknik analisis data
Dalam menganalisi data, peneliti menggunakan analisis prakmatik yaitu berdasarkan pada sudut pandang prakmatik (Rustono,1999:18) analisis ini berupaya  menentukan maksud penutur baik diekspresikan secara tersurat maupun yang diungkapan secara tersirat dibalik tuturan.
Adapun metode yang digunakan yaitu metode identifikasi. Metode identifikasi adalah metode yangdilakukan dengan cara menetapkan sesuatu tidak tutur berdasarkan jenis tindak tuturnya, aspek-aspek situasi tuturnya dan cara penyampaian iklan .
Kegiatan analisis data tersebut dilakukan dalam dua tahap, yaitu :
a.    Menentukan jenis tindak tutur
b.                                         menarik kesimpulan
E.     Teknik pemaparan hasil analisis
Pemaparan hasil analisis data merupakan langkah selanjutnya setelah analisis data selesai, untuk memaparkan hasil analisis data diperlukan suatu teknik pemaparan data. Ada dua teknik pemaparan data yaitu teknik yang bersifat formal dan informal (Sudaryanto, 1993:44)teknik pemaparan hasil analisis secara informal dilakukan dengan cara perumusan dengan kata-kata biasa walaupun dengan terminologi yang tidak teknik sifatnya, sedangkan teknik formal adalah perumusan dengan tanda-tanda dan lambing-lambang.
Teknik pemaparan hasil analisis data yang digunakan untuk memaparkan jenis tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi yang terdapat dalam wacana iklan berbahasa Indonesia di radio Gajah Mada.

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsini. 2009. Proposal Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rekaan Citra
Depdikbud. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Jefkin, Frank. 1995. Periklanan. Jakarta : Erlangga
Rachman Maman.1993. Strategi dan langkah-langkah penelitian pendidikan . semarang: IKIP SemarangPress
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Analisis Bahasa. Yogyakarta : Duta Wacana Press
Sudaryat Yayat.2009.makna dalam wacana:prinsi-prisip semantik dan pragmatik Bandung. Yrama Widya.
Tarrigan, Henri Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung : Angkara



DAFTAR IKLAN


  1. Antangin JRG
Kuburan Band            : Awas...awas masuk angin jangan lupa obatnya. Ingat....ingat masuk angin  cuma ingat Antangin, langsung minum terasa hangat dan angin pun hilang badan pun sehat dan Antangin JGR hangatnya memang berkhasiat. (Bernyanyi)
Operator                      :Antangin JRG dari 100% ekstra alami sangat berkhasiat untuk mengusir masuk angin. Bablas angine badan kembali ok.

Kuburan Band            : Langsung minum terasa hangat dan angin pun hilang badan pun sehat dan Antangin JGR hangatnya memang berkhasiat.(Bernyanyi)
Operator                      : Antangin JRG bablas angine.


  1. Blueband Mini
Ibu                         :Ayah, kakak, adik ayo sini
Adik                      : Asyik hem........aroma nasi goreng ibu lezat
Kakak                    : Apalagi rasanya pasti enak
Ayah                     : Emang masaknya pakai apa si bu?
Ibu                         :Ini lho yah
Cukup satu blueband mini untuk masakan itu yang istimewah cukup satu blueband mini, untuk masak yang menggugah selera cukup...cukup...cukup satu blueband mini hidung mengembang karena aromanya cukup satu cukup blueband mini, lidah mengencang karena kelezatannya cukup...cukup...cukup satu blueband mini.(Bernyanyi)
Bersama-sama       : Semua pasti makan dengan lahabnya dan habis tak bersisa.
Operator                : Cukup satu blueband mini untuk kelezatan istimewa

  1. Cling
Temen                   :Apa itu jon?
Jon                         : Ini kan cling pembersih kaca
Temen                   : Itu jon di situ jon
Jon                         : Di situ mah udah bening, cling kan bikin kaca bening
Temen                   : Di deket jendela jon!
Jon                         : Iya, ntar jendelanya jg tak bikin cling, cling itu SPFnya membersihkan kaca agar kotoranya tidak nempel lagi, jadi semprot cling anti jamur agar kaca kagak kelihatan.
Temen                   : Kelihatan jon
Hantu                    : Wangi ya
Jon dan temen       ; Po..po.pocooooong!!!!
Hantu                    : Jadi kelihatan ya
Operator                : Yaa.......ha....ha...cling bikin kaca nggak  kelihatan, bersih, bening seperti tanpa kaca.

  1. Kapsul Bersih Darah Kembang Bulan
Perempuan                        :Rin kamu pernah gatal-gatal enggak?
Rin                                    : Kenapa?
Perempuan                        : Kalau jerawatan atau elergi makanan
Rin                                    : Iya, terus kenapa? Kulitmu gatal-gatal ya!
Perempuan                        : Ih siapa bilang? Aku kan cuma tanya aja!
Rin                        : Ni minum kapsul bersih darah secara teratur, dijaming deh gatal-gataldikulitmu langsung hilang.
Perempuan                        : Ih siapa yang gatal-gatal! Aku kan nanya aja
Operator                : Kapsul darah kembang bulan terbukti memperlancar peredaran darah, mencegah timbulnya jerawat dari dalam serta menyembuhkan penyakit kulit akibat darah kotor, minum secara teratur kapsul bersih darah kembang bulan dan rasakan tumbuh sehat, sehat, bersih dan terawat
Perempuan            : Wah cantik banget kamu hari ini!Kulitmu bersih, halus, pasti minum kapsul bersih darah kembang bulan ya, ngomong-ngomong bos kita ada gak?
Rin                                    : Emang kenapa?
Perempuan                        : Aku cuma nanya aja
Operator                   : Kapsul bersih darah kembang bulan PT Kembang Bulan Farma.

  1. Srongpas
Jangan ngeres!! Pembicaraan tadi terjadi antara wanita klining servis dan satpam di dalam lobi kantor.
Klining servis        : Mas nggak capek...capek berdiri terus, keluar dong? Dari tadi di dalam saja nggak keluar-keluar.
Satpam                  :Entar ah! masih lama
Klining servis        : Tapi hati-hati ya mas, masih basah banget mas di dalam, licin
Satpam                  : Aku belum mau keluar
Klining servis        : Entar aku elapin deh pentunganya
Satpam                  : Nanti deh
Klining servis        : Kok bisa si mas kuat berdiri terus dari kemarin
Satpam                   : Itu pakai srongpas ramuan alaminya naiki tenagaku dan bikin aku tambah kuat untuk kerja lebih lama, bisa ngilangin sakit pinggang juga loh...
Klining servis        : Wah kalau gitu aku keluar dulu ya
Satpam                  : Udahlah bareng aja keluarnya
Operator                 : Jangan ngeres!! Pembicaraan tadi terjadi antara wanita klining servis dan satpam di dalam lobi kantor. Srongpas kapsul obat kuat khusus pria dibuat dari pasak bumi dan gingseng asli korea, menambah kekuatan dan daya tahan pria, minum srongpas kapsul tiap hari, obat kuat khusus pria rahasia suami agar dipuji  istri, baca aturan pakai

  1. Saos Niki Sari
Di tambah Saosnya jadi tambahan pedesnya, lebih enak rasanya, makin nikmat makanya. Mau apa mie saosnya kok enak betul rasanya, pengen tau sambalnya mesti ok saosnya. Saos Niki Sari rasanya lebih pedas, Saos Niki Sari  cocok untuk mie ayam dan bakso. Di tambah saosnya jadi tambah pedesnya jadi enak rasanya makin enak rasanya makin nikmat makannya Saos Niki Sari di olah secara higinis Saos Niki Sari makin lebih nikmat. (Bernyanyi)
Operator                : Saos Niki Sari pedas dan nikmat.

  1. Surf
Mendung-mendung mau nyuci, surf...surf...surf...
Malam-malam  nyuci lagi surf...surf...surf...
biar nggak ada matahari nyuci pakai surf nggak bikin baju apek , nggak ada matahari nggak masalah lagi, irit pakai surf , seger pakai surf , putih dan bersih pakai surf bersih dan segar suntegnologi putih segar meski tanpa sinar matahari.(Bernyanyi)


  1. Nuvo
Laki-laki                :Yo...yo...yo...ada yang baru dari nuvo, i lake it nuvo...nuvo..
Perempuan            :Yuk mandi pakai nuvo, mandi bersih nuvo kuman-kumanya K.O.
Laki-laki                : I lake it nuvo...nuvo...
Perempuan                        :Yuk mandi gaya nuvo mandi sehat nuvo kuman-kumanya K.O. mandi pakai novo mandi-mandinya happy karena nuvo melindungi dan kuman-kumanya mati
Yuk mandi gaya nuvo mandi sehat nuvo kuman-kumanya K.O.
Operator
Nuvo baru TCC dan Triklosan double straik melindungi seluruh keluarga, mandi jadi happy 90% kuman mati, tubuh jadi sehat bersih karena nuvo bikin happy

  1. Pilkita
Perempuan                        : Wah bis pulang narik taxi ya bang soib
Soib                       : Iya ni capek, loyo, gas kendor
Perempuan             : Gimana si bang? Kalau gas kendor minum pilkita, gas pol lagi
Soib                       : iya ya minum pilkita gas kendor jadi gas pol
Operator                 : Pegel-pegel, linu-linu, encok, lesu, lemah minum saja pilkita tidur lebih nyenyak bangun pagi seger buger lagi.
Soib :                       Tuh...Wa...Ga...Pat
Perempuan                        : Wah sudah seger lagi ni!! Siap tempur lagi ni
Soib                       : Iya kan sudah minum pilkita gas kendor jadi gas pol lagi
Operator                 : Pilkita pilihan kita, baca aturan pakai bila sakit berlanjut hubungi dokter

  1. Rinso
Ibu-ibu                  : a......a.......a...Tengku wisnu
Tengku wisnu        : Sudah coba rinso anti noda baru dengan tenaga pengangkut noda bu?
Ibu-ibu                  : Belum tuh mas !
Tengku Wisnu       : Kalau gitu saya tantang ibu-ibu, tantangan rinso sekali kucek, sekarang ibu pilih noda coklat, spidol, atau kecap,baru kita cuci.
Ibu-ibu                  : Noda kecap aja mas
Tengku wisnu        : Oke, noda kecap yang terpilih, mari kita buktikan dengan rinso sekali kucek
Ibu-ibu                     : Wah..... nodanya langsung ilang
0perator                    :Terbukti dengan rinso anti  noda baru sekali kucek noda beras.
Tengku Wisnu          : Anda ingin membuktikan coba formula baru rinso, siapkan kemasannya dan tunggu saya Tengku Wisnu dan tim Rinso mengetuk pintu rumah anda di seluruh Indonesia. Mulai April – Juni total hadiah jutaan rupiah menanti Anda ikuti juga tantangan rinso sekali kucek di super maket di kota Anda. Keterangan lebih lanjut baca di media cetak atau suara konsumen yang ada, hati-hati penipuan kegiatan ini tidak dipungut biaya

  1. Zink
Fans I                    : Duh Agnes Monika lewat deh loh
Fans II                   : Pastinya, baju, penampilan, dandanan dia, gue banget kan?
Fans I                    : Ih ngarep.com , tapi ada yang kurang tuh
Agnes                    : Kurang gaya rambutnya
Fans I dan II         : Wah........ Agnes
Agnes                    : Iya rambutmu itu kurang gaya
Fans I                    ; kalau itu sih aku gak PD punya rambut kaya lo ketombe, rontok, tak bisa disembunyikan
Agnes                     : Semua pasti kelihatan, gwe berani aja kan ada zink anti ketombe ZFTOnya, ketombe nggak lagi
Fans II                    : Tapi sampo anti ketombe bikin rambut kering
Agnes Monika        : Itu nggak masalah! Selain sampo anti ketombe zink bikin sampo nggak kering, zink ada mustirizer bikin rambut lembut so mood.
Fans II                      :Wah... OK tuh!
Agnes Monika          :Bener! Udah gitu kemilau banget, nggak kwatir rambut rontok. Jadi kuat lho.
Fans II                      : Wah... nggak kebayang kalau aku pakai zink. Pasti gwe 11   12 sama Agnes Monika.
Fans I                       :Ye.... ngarep, kurusin dulu tuh badan
Agnes Monika          : Zink ahlinya masalah ketombe


  1. Paramex
Ibu                         : Nyut....nyut..... nyut...duh sakit kepala rasanya mau pecah
Bapak                     : Masalah sakit kepala  obati paramex , paramex memang cepat mengatasi sakit kepala.
Bila kepala mau pecah minum saja paramex , sakit kepala paramex obatnya. Produksi konimex, obat ini dapat menyebabkan kantuk, baca aturan pakai bila sakit berlanjut hubungi dokter.

  1. Mixagrip Pegel Linu
Mas           :Badan saya pegel dan linu ni, tolongin saya dong mnak Mbak!
Mbak         :Mau paket yang mana mas?
Mas           : paket!!
Mbak            : Iya mas, ada paket pijat plus koyo super, agar badan langsung seger buger
Mas              : Ah..... anu.. saya gelian mbak  kalau dipijat lagian saya nggak tahan panas
Mbak            : Oh.....ada paket II pakai kerok dan jahe anget, badan berasa ange, pegel linu ilang.
Mas               :Anu mbak saya itu nggak tahan kerok sakit ah
Operator    : Nggak usah ina-inu ini ada yang baru dari mixagrip. mixagrip pegel linu yang satu-satunya mengandu Miloba jahe dan madu terbukti berkhasiatnya menghilangkan pegal-pegalsejak ratusan tahun yang laludan di jamin nggak lina-linu lagi.
Mbak         :Lho mas...mas...kok nggak jamu! Yang mijitin cuantik lho mas, buat penglarisan aja deh mas
Mas           : Nggak usah mbak udah ada mixagrip pegel linu
Operator     : Badan pegel linu nggak usah ina inu minum aja mixagrip pegel linu produksi KB farma baca aturan pakai bila sakit berlanjut hubungi dokter.

  1. Mie Sedap
Begitu lezatnya mie sedapnya, ku jatuh cinta....ku jatuh cinta
Lebih terasa lezatnya mie sedap i like it
Mie sedap i like it
Mie sedap semua suka, jelas lebih rasa puasnya.
Kami personil Padi jatuh cinta sama mie sedap, rasa sedapnya jadi inspirasi dan selalu setia menyertai kami. Setiap saat setiap waktu
Operator    : Tuh terbukti kan cuma bukan kita yangsuka mie sedap grub band Padi juga kalau belum coba semua rasanya buruan coba pasri jatuh cita juga.
Mie sedap dari mie food.

  1. Enervon –C
Agnes        :Ya...GIGI...
Gigi           :Eervon-C.... Enervon –C... Enervon –C...
Agnes         Inilah Band Indonesia Gigi
Gig            : Terimakasih Agnes...Wah..besok masih ada lima puluh satu kota lagi..
Agnes        Yupz..capek sih..tapi seru..? biar latihan berat dan keliling indonesia gini tetap semangat!
Gigi           Tapi cuaca gi gak jelas nih..makanya kita harus menjaga daya tahan tubuh
Agne         : Itu sih gampang jalani tubuh sehat dan perlu minum Enervon-C, kombinasi tepat Vit C dan B Compleks untuk jaga kondisi tubuh tur lima puluh dua kota lanjut...Enervon-C biar gak gampang capek..
Baca aturan pakai